Al-Qur'an: Struktur dari Awal & Kemukjizatannya

  • 14 Agt 2026 15:18 WIB
  •  Pontianak

BAGIAN I: STRUKTUR AL-QUR'AN DARI AWAL

RRI.CO.ID, Pontianak - Al-Qur'an tersusun secara sistematis dan teratur, bukan hasil penyusunan acak, melainkan susunan yang ditetapkan dengan petunjuk Allah SWT melalui Nabi Muhammad ﷺ. Struktur ini memiliki tingkatan dari yang terbesar hingga terkecil, sekaligus mencerminkan keindahan dan keteraturan yang menjadi bagian dari kemukjizatannya.

Tingkatan Penyusunan Al-Qur'an

Pertama, Al-Qur'an terbagi menjadi 30 Juz. Pembagian ini dibuat untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, sehingga seseorang dapat menyelesaikan pembacaan seluruh Al-Qur'an dalam waktu sekitar satu bulan. Setiap juz rata-rata memuat jumlah ayat yang seimbang, dan sering kali tidak berhenti tepat di akhir satu surat, melainkan di tengah surat, menunjukkan kesatuan pesan yang mengalir menyeluruh.

Kedua, Al-Qur'an terdiri atas 114 Surat atau bab. Urutan surat dimulai dari Surat Al-Fatihah sebagai pembuka, lalu dilanjutkan dengan surat-surat yang panjangnya berangsur-angsur memendek hingga Surat An-Nas sebagai penutup. Urutan ini bukan hasil kebijakan sahabat semata, melainkan ditetapkan atas perintah Allah kepada Rasulullah ﷺ. Setiap surat memiliki kesatuan tema dan pesan utama, meskipun saling melengkapi. Surat terpanjang adalah Surat Al-Baqarah, sedangkan surat terpendek antara lain Surat Al-Kautsar. Semua surat dimulai dengan Basmalah, kecuali Surat At-Taubah.

Ketiga, setiap surat tersusun atas Ayat-ayat, yang berjumlah 6.236 ayat menurut hitungan yang paling umum digunakan. Kata "Ayat" sendiri secara harfiah berarti "tanda" sehingga setiap potongan wahyu adalah tanda kebesaran Allah. Ayat-ayat tidak disusun berurutan berdasarkan waktu penurunan, melainkan disusun atas perintah Allah, sehingga membentuk susunan bahasa, makna, dan pesan yang harmonis, seimbang, dan saling menguatkan.

Pembagian Berdasarkan Tempat Turunnya

Dari sisi waktu dan tempat turunnya, surat-surat terbagi menjadi dua kelompok besar, yang juga membentuk pola pendidikan bertahap. Surat Makkiyah, berjumlah 86 surat, diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Ciri-cirinya umumnya ayat lebih pendek, bunyi lebih menggetarkan hati, dan isinya lebih banyak menanamkan dasar keimanan, keesaan Allah, hari pembalasan, serta kisah umat terdahulu. Surat Madaniyah, berjumlah 28 surat, diturunkan setelah hijrah. Ciri-cirinya ayat lebih panjang, bahasanya lebih tenang, dan memuat hukum-hukum syariat, aturan sosial, hubungan antarumat beragama, serta tata kehidupan bernegara.

Pola susunan ini bukan kebetulan. Sebagian besar surat yang panjang dan memuat hukum-hukum terkelompok di bagian awal Al-Qur'an, sedangkan surat-surat pendek yang penuh kekuatan rohani dan seruan keimanan terkelompok di bagian akhir. Susunan ini seakan membawa pembaca dari fondasi keimanan menuju bangunan syariat yang lengkap, lalu kembali kepada kesadaran rohani yang mendalam sebuah arsitektur pesan yang sempurna dan mustahil dirancang oleh manusia yang tidak pandai membaca dan menulis.

BAGIAN II: AL-QUR'AN SEBAGAI MUKJIZAT TERBESAR NABI MUHAMMAD ﷺ

Pengertian Mukjizat dan Kedudukannya

Mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang dihadirkan Allah SWT melalui seorang nabi sebagai bukti kenabiannya, yang ditantang untuk ditandingi oleh siapa pun yang meragukan — namun seluruh manusia terbukti tidak mampu melakukannya. Al-Qur'an menempati posisi sebagai mukjizat terbesar dan kekal milik Nabi Muhammad ﷺ. Berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu yang bersifat fisik dan terbatas masa hidupnya, Al-Qur'an adalah mukjizat yang bersifat rasional dan bermakna, berlaku sepanjang masa hingga hari kiamat. Setiap generasi dapat memeriksa dan menyaksikan kemukjizatannya secara langsung melalui susunan dan isinya.

Hal ini didasarkan pada tantangan langsung dari Allah di dalam Al-Qur'an: jika mereka ragu, buatlah satu surat yang seumpamanya dan Allah menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah mampu. Juga terdapat jaminan bahwa Allah sendirilah yang menjaga kemurniannya hingga akhir zaman. Dari sisi hadits, riwayat yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim mencatat bahwa Nabi bersabda bahwa mukjizat yang diberikan kepadanya adalah wahyu berupa Al-Qur'an itu sendiri, sehingga beliau berharap pengikutnya paling banyak hingga hari kiamat, karena mukjizatnya dapat disaksikan setiap generasi tanpa batas waktu. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, As-Suyuthi, dan Az-Zarqani menegaskan bahwa Al-Qur'an memenuhi seluruh syarat sebuah mukjizat: luar biasa dalam segala aspek, disertai tantangan yang belum pernah terjawab, dan mustahil dibuat oleh selain Allah SWT.

Alasan Mengapa Al-Qur'an Adalah Mukjizat

Pertama, Al-Qur'an diturunkan tepat sesuai dengan keunggulan zaman dan kemampuan puncak kaumnya. Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, bangsa Arab mencapai puncak keahlian dalam bahasa dan kesusastraan. Maka Allah menantang mereka dengan sesuatu yang paling mereka banggakan susunan bahasa yang mustahil ditiru, meskipun menggunakan huruf, kata, dan bahasa yang sama persis dengan yang mereka gunakan sehari-hari. Selama lebih dari 14 abad, tantangan itu belum pernah terjawab. Tidak ada penyair, ahli sastra, maupun penantang mana pun yang mampu mendatangkan satu surat saja yang sebanding dengan keindahan, kedalaman makna, dan keteraturan susunan Al-Qur'an.

Kedua, Nabi Muhammad ﷺ sendiri adalah seorang yang ummi tidak pernah membaca, tidak pernah menulis, dan tidak pernah berguru kepada siapa pun. Beliau dikenal oleh seluruh kaumnya demikian sejak lahir. Jika Al-Qur'an buatan manusia, niscaya akan terdapat pertentangan, kekurangan, atau pengaruh pendapat pribadi. Namun kenyataannya, isi Al-Qur'an sangat luas, konsisten, bebas dari kesalahan, dan disusun dalam tatanan bahasa yang luar biasa mustahil dihasilkan oleh seseorang yang tidak pernah belajar menulis atau membaca. Hal ini semakin diperkuat oleh keteraturan strukturnya yang tersusun rapi dari 30 juz, 114 surat, dan ribuan ayat dengan tema yang mengalir saling melengkapi secara sempurna.

Aspek-Aspek Kemukjizatan dalam Susunan dan Isinya

Ditinjau dari sisi kebahasaan dan susunan, Al-Qur'an memiliki gaya bahasa yang unik bukan puisi, bukan syair, bukan pula prosa biasa. Susunan ayatnya memiliki irama, keindahan, dan kekuatan menyentuh hati yang tidak dapat ditiru. Para ahli bahasa Arab terhebat pada masa itu akhirnya mengakui ketidakmampuan mereka mendatangkan yang serupa, bahkan banyak yang masuk Islam setelah menyadari keagungan bahasanya. Padahal mereka menggunakan bahasa yang sama, namun susunan dan gaya Al-Qur'an berada di luar jangkauan kemampuan manusia.

Ditinjau dari sisi pemberitaan hal-hal yang gaib, Al-Qur'an memuat banyak kabar mengenai peristiwa yang belum terjadi atau hal-hal yang tidak mungkin diketahui oleh manusia pada masa itu. Al-Qur'an menyampaikan kisah nabi-nabi dan umat-umat terdahulu dengan rincian yang tidak diketahui oleh masyarakat Arab pada masa itu, padahal Nabi tidak pernah membaca kitab-kitab sebelumnya atau berguru kepada ahlinya. Al-Qur'an juga mengabarkan kemenangan pasukan Muslim atas Kerajaan Romawi pada waktu yang sangat spesifik, dan peristiwa itu terbukti terjadi persis sesuai dengan keterangan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan terdapat jaminan bahwa jasad Firaun akan terjaga dan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi yang datang belakangan, dan hal ini pun terbukti kebenarannya melalui penemuan arkeologi pada masa-masa yang jauh setelahnya.

Ditinjau dari sisi kesesuaian dengan pengetahuan alam, Al-Qur'an memuat banyak keterangan mengenai alam semesta, penciptaan, pergerakan benda langit, perkembangan makhluk hidup, dan struktur bumi yang baru dapat dipahami dan dibuktikan kebenarannya oleh ilmu pengetahuan modern. Padahal Al-Qur'an telah diturunkan sejak abad ketujuh masehi, jauh sebelum ditemukannya peralatan canggih dan metode penelitian ilmiah yang kita kenal sekarang. Seluruh keterangan tersebut ternyata selaras dengan temuan sains modern, dan tidak ada satu pun keterangan dalam Al-Qur'an yang terbukti bertentangan dengan fakta ilmiah yang dapat dipercaya. Hal ini menunjukkan bahwa yang menyampaikan Al-Qur'an adalah Zat yang menciptakan alam semesta itu sendiri.

Ditinjau dari sisi hukum dan aturan kehidupan, Al-Qur'an menyusun sistem syariat dan hukum yang sangat lengkap, seimbang, dan adil. Aturan-aturannya mencakup hubungan manusia dengan Allah, hubungan antarmanusia, urusan keluarga, masyarakat, hingga tata kenegaraan. Hukum-hukum yang ditetapkan Allah di dalam Al-Qur'an tidak kaku dan tetap relevan diterapkan di segala keadaan, segala bangsa, dan segala zaman. Keadilan yang terkandung di dalamnya tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, kekuasaan, atau keadaan waktu, sehingga menjadi bukti bahwa pembuatnya adalah Allah Yang Maha Adil dan mengetahui segala keadaan makhluk-Nya.

Ditinjau dari sisi kemurnian dan ketahanan susunan sepanjang masa, Allah telah menjamin keutuhan Al-Qur'an sejak diturunkan hingga hari kiamat. Selama lebih dari empat belas abad, Al-Qur'an tetap terjaga tanpa ada perubahan, penambahan, atau pengurangan sedikit pun. Hal ini terbukti dari jutaan orang yang menghafalnya dari generasi ke generasi, sehingga tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengubah isinya. Urutan 30 juz, 114 surat, dan ribuan ayat tetap terjaga kemurniannya di mana pun di dunia. Tidak ada kitab atau karya manusia lain yang dapat mempertahankan kemurnian dan keteraturan susunannya secara sempurna dalam waktu yang begitu lama dan tersebar di seluruh penjuru dunia seperti yang terjadi pada Al-Qur'an.

Perbandingan dengan Mukjizat Nabi Terdahulu

Mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu umumnya bersifat fisik dan dapat dilihat secara langsung oleh mata pada waktu itu saja. Keberadaannya terbatas pada masa hidup nabi tersebut dan hanya dapat disaksikan oleh orang-orang yang hidup pada masa itu. Oleh karena itu, generasi yang datang setelahnya tidak dapat lagi menyaksikan bukti tersebut secara langsung dan harus menerimanya melalui penyampaian berita.

Berbeda dengan mukjizat Al-Qur'an yang sifatnya bersifat maknawi dan dapat diperiksa serta disaksikan oleh akal dan hati setiap orang. Keberadaannya tidak terbatas oleh waktu, melainkan berlaku terus-menerus dari masa Nabi hingga hari kiamat. Setiap generasi di setiap zaman dapat langsung membaca, mempelajari, dan membandingkan kebenaran Al-Qur'an dengan keadaan yang mereka alami sendiri. Cakupan isinya pun sangat luas dan menyeluruh, tidak hanya menyampaikan satu peristiwa atau satu kelebihan saja, melainkan mencakup petunjuk keimanan, sejarah, hukum, pengaturan hidup, serta pengetahuan tentang alam dan kehidupan. Jika mukjizat terdahulu ditujukan khusus untuk kaum tertentu pada masa itu, Al-Qur'an dengan susunan dan pesannya yang bertahap — dari Mekah ke Madinah, dari dasar iman ke hukum lengkap — adalah petunjuk bagi seluruh manusia dan jin hingga hari kiamat.

KESIMPULAN

Secara keseluruhan, Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ yang tercermin sekaligus dalam susunannya yang teratur sempurna dan isinya yang mustahil dibuat manusia. Disusun menjadi 30 juz, 114 surat, dan lebih dari 6.000 ayat dengan urutan yang ditetapkan atas perintah Allah, dimulai dari Al-Fatihah dan diakhiri dengan An-Nas. Susunan itu sendiri sudah menunjukkan kemukjizatannya: diturunkan oleh Nabi yang ummi, namun bahasanya tak tertandingi, beritanya tak pernah keliru, hukumnya selalu adil, dan susunannya tetap terjaga sempurna sepanjang masa. Tantangan Allah yang tercantum di dalamnya belum pernah terjawab selama berabad-abad. Maka terbukti sepenuhnya: Al-Qur'an bukanlah buatan manusia, melainkan wahyu dari Allah Yang Maha Bijaksana, yang menyusunnya dengan tatanan indah agar menjadi petunjuk lengkap bagi seluruh alam.

Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur, S.H., M.Hum.

Dosen Fakultas Hukum — Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat

Peneliti Sejarah Hukum dan Hukum Tata Negara

Baca juga: Semiotika Laduni Struktur Al-Qur’an Digital

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....