Secangkir Kopi dan Hangatnya Silaturahmi KBPII Kalbar

  • 09 Agt 2026 11:50 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Alumni KBPII secara rutin berkumpul di sebuah warung kopi sederhana di Pontianak setiap pagi Ahad menjelang syuruq untuk merajut kembali persaudaraan.
  • Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi cerita tentang pekerjaan, keluarga, kenangan masa sekolah, dan kehidupan pribadi dengan penuh keakraban.
  • Warung kopi ini berfungsi sebagai pengikat tali persaudaraan yang sempat merenggang akibat kesibukan masing-masing anggota keluarga besar alumni.

RRI.CO.ID, Pontianak - Pagi Ahad menjelang syuruq di Kota Pontianak selalu punya caranya sendiri untuk menghangatkan suasana. Di sebuah warung kopi sederhana, aroma kopi susu yang mengepul berpadu serasi dengan aneka kuliner khas yang tersaji di atas meja. Di sana, beberapa Kanda dan Yunda senior Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) duduk bersama, merajut kembali kenangan dalam balutan keakraban.

Obrolan mengalir tanpa sekat. Mulai dari urusan pekerjaan, kisah anak dan cucu, memori masa sekolah dan kuliah, hingga kelakar tentang pertemuan dengan pasangan hidup yang menyulut gelak tawa. Di meja kopi itu, yang dinikmati bukan sekadar minuman, melainkan pengikat tali persaudaraan yang sempat merenggang akibat kesibukan masing-masing.

Pertemuan ini menegaskan betapa pentingnya arti sebuah silaturahmi. Silaturahmi tak selalu membutuhkan perayaan besar, ia bisa bermula dari sapaan hangat, ruang untuk mendengar, dan kesediaan untuk saling menguatkan. Lebih dari sekadar tatap muka, silaturahmi adalah wadah merawat persaudaraan dan menghidupkan kembali memori yang pernah menyatukan. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, ikatan inilah yang menjaga tali kasih tetap utuh.

Herman Hofi Munawar, Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Kalimantan Barat, menegaskan hakikat mendalam dari pertemuan sederhana tersebut.

"Dari warung kopi pagi hari ini, ada pelajaran sederhana bahwa silaturahmi merupakan investasi sosial yang tidak pernah kehilangan nilai," ujarnya, Minggu, 9 Agustus 2026.

Ia menambahkan bahwa silaturahmi tidak membutuhkan biaya besar, tetapi mampu menghadirkan kehangatan yang sering kali tidak ditemukan di tengah kesibukan sehari-hari.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, momen seperti ini membuat beban hidup sejenak terasa lebih ringan. Sebab pada dasarnya, manusia tidak hanya mengejar keberhasilan, tetapi juga membutuhkan sesama untuk berbagi cerita dan saling menopang.

Secangkir kopi akan habis dan kue di meja akan usai. Namun, selama silaturahmi terus dirawat, persaudaraan akan tetap hidup menjadi bekal berharga untuk melangkah ke depan.

Penulis: Mustafa Al-Jungkati

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....