Hari Ini 82 Tahun Silam Mandor Bersimbah Darah

  • 28 Jun 2026 11:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perang telah menaburkan duka dan kebencian. Konon lagi bila akibat yang ditimbulkannya menorehkan duka yang teramat parah. Peristiwa tragis di Mandor Landak Kalimantan Barat, ketika balatentara Dai Nippon Jepang membantai ribuan orang Indonesia, menjadi catatan hitam yang agaknya tak mudah untuk dilupakan.

Tak ada saksi mata yang mampu menceritakan proses pembantaian di kawasan hutan pinus Mandor, 78 kilometer utara Pontianak itu. Keterangan tertulis yang menjadi dasar informasi antara lain hanya surat kabar Borneo Shimbun, sebuah surat kabar propaganda balatentara Jepang bertanggal 1 Sitigatu 2604 atau 1 Juli 1944.

Enam belas orang perwira Angkatan Laut Jepang, Kaigun, dua di antaranya admiral, memang telah dihukum mati oleh militer Sekutu. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sebagai penjahat perang.

Adapun 16 nama perwira Jepang, pada penjahat perang dimaksud, dieksekusi di Penjara Sungai Jawi Pontianak pada Oktober-Nopember 1947. Ke-16 orang itu masing-masing antara lain Daigo, Kamada, Uesugi, Okajima, S Yamamoto, Y Yamamoto, Sano, Ishiyama, Hirayama, Yoshio, Unno, Kojima, Miyajima, Tsurumi, Kaneko dan Kuse. Dua darinya, Daigo dan Kamada adalah kerabat Tenno Haika.

Komandan Tokkei, Pasukan Khusus Istimewa Angkatan Laut Jepang, Yamamoto saat memberi keterangan di depan pengadilan militer Sekutu mengakui, Dai Nippon menargetkan ribuan jiwa harus mati di Borneo Barat.

Sangat sulit dibayangkan kesadisan tentara Dai Nippon masa itu. Bukan hanya membunuh orang yang berumur belasan tahun, tapi satu generasi harus dihilangkan. Tak seorang pun akan dibiarkan hidup. Dengan demikian, bagi rezim militer Jepang, tak akan ada lagi perhitungan dan pembalasan di kemudian hari.

Ini sejalan dengan doktrin Jenderal Hideki Tojo, sebagaimana dilakukan di Korea saat pendudukan Jepang. Mereka membunuh bangsa jajahan, laki maupun perempuan, umumnya berusia di atas 12 tahun. Itu tak lain, untuk menjepangkan generasi mudanya, agar tunduk di "bawah langit kepunyaan kaisar".

Mandor dulunya merupakan kawasan militer. Sekeliling kawasan yang kini jadi Makam Juang Mandor itu, dulunya dikelilingi pagar kawat berduri dengan penjagaan sangat ketat. Balatentara Dai Nippon melarang siapa pun mendekat, apalagi masuk, ke kawasan itu tanpa perintah militer Jepang. Kalau bandel, tentu saja ditembak mati di tempat itu.

Selentingan kabar menyatakan, di sana sedang disiapkan sebuah lapangan terbang menopang milisi Jepang. Tapi tak pernah ada kelanjutannya, keburu Jepang kalah dan bertekuk lutut kepada Sekutu.

Sebagai salah satu anggota Sekutu, tentara Australia ditugasi menangani Kalimantan Barat. Diperoleh mereka informasi tentang tempat bernama Mandor. Dan di sana, suatu yang luar biasa saat pertama diketemukan. Jarak puluhan meter menjelang kawasan luas, sudah beredar bau busuk yang teramat menyengat.

Bau bangkai yang semakin didekati, tercium makin keras. Ribuan, sebutlah demikian, jenazah manusia yang membentuk gunungan hampir semeter tingginya sebagian besar tercabik oleh gigitan binatang hutan.

Ternyata itulah tumpukan korban kekejaman militer Jepang yang tak digalikan kuburnya. Belakangan ketika itu, tentara Australia bersikap manusiawi, memerintahkan dengan mengupah penduduk, membuat kuburan yang layak. Ukuran tiap cungkup kuburan itu tidak tanggung-tanggung. Paling pendek ukurannya 15x6 meter. Dari satu cungkup ke cungkup lainnya, jaraknya rata-rata 100-200 meter.

Pihak Sekutu pula pada kurun 1946-1949, membangun kawasan pemakaman itu. Tiap lubang dibuatkan bangunan beratap kayu. Kalau dilihat sekilas, mirip bangsal panjang, saking banyaknya yang dikuburkan di tiap lubang.

Terdapat gerbang dan tembok menuju makam, tertulis di atasnya Erevald Mandor. Sepeninggal Sekutu, kawasan yang memang agak terpencil ini, tak terawat. Semak belukar meninggi dan menyulitkan kalau hendak berziarah.

Semasa Gubernur Kalimantan Barat Kadarusno, pada tahun 1973, makam-makam itu dibenahi. Diawali 28 Juni 1973 bertepatan saat puncak pembantaian sadis 28 Rokugatsu tahun 2604 atau 28 Juni 1944, sejak itu tradisi ziarah tahunan berlangsung sampai sekarang.

Tiga tahun kemudian, Pemerintah Daerah memugar seluruh kawasan tersebut.

Makam Juang Mandor ini, sejak Republik Indonesia berdaulat penuh sampai tahun terakhir ini, belum pernah dikunjungi petinggi Jepang. Namun, secara dan sebagai pribadi Taizo Watanabe yang waktu itu Duta Besar Jepang untuk Indonesia bersama rombongan ziarah ke Mandor menjelang 50 tahun Indonesia merdeka.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Sejarawan Kalbar)

Baca juga: Intelijen Nippon Perintisan Awal Peristiwa Nahas di Pontianak

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....