Mengapa Jepang Membantai Satu Generasi Terbaik Kalimantan Barat?
- 24 Jun 2026 09:33 WIB
- Pontianak
RRI CO.ID, Pontianak - Sebuah penyelidikan selepas Perang Dunia ke dua yang dilakukan oleh tentara Belanda dan Australia, menegaskan dugaan mereka dengan menyimpulkan isu pemberontakan rakyat Kalimantan Barat terhadap pemerintah Jepang hanya isapan jempol Jepang belaka.
Dan ini merupakan alat untuk menyingkirkan para pemimpin setempat. Organisasi multi etnis tidak pernah dikenal di Borneo sebelum Perang Dunia II, dan Sekutu sendiri juga tidak mengetahui mengenai orang yang diduga sebagai kontak rahasia mereka di Borneo Barat.
Beberapa waktu kemudian, seorang perwira Jepang menyatakan bahwa polisi militernya telah menemukan beberapa senjata Sekutu. Namun kalangan militer lainnya yang terlibat mengakui bahwa tuduhan tersebut hanya rekaan rezim penguasa Dai Nippon Jepang belaka.
Sebenarnya tidak ada bukti yang menunjukkan berlangsungnya kegiatan perlawanan aktif terhadap Jepang. Mustahil untuk menyusun kembali apa yang telah terjadi. Satu-satunya saksi yang ada hanyalah para pelaku dan para korbannya.
Artikel dalam surat kabar Borneo Shimbun edisi Kalimantan Barat merupakan satu-satunya penjelasan resmi atas peristiwa itu, selain pengakuan yang saling bertentang dari para perwira Jepang dalam pengadilan kejahatan perang yang dilakukan setelah perang berakhir.
Satu-satunya pemberontakan fisik, yang berlainan dengan pemberontakan khayalan Jepang, menentang kekuasaan Jepang ialah pemberontakan orang Dayak di sekitar Sanggau Kapuas antara Mei—Juni 1945.
Di sana, orang Dayak dengan heroik membunuh sejumlah orang tentara Jepang. Kekerasan menyebar, bahkan oknum orang Melayu pun yang diduga berkolaborasi dengan Jepang diburu kepalanya sebagaimana terjadi di daerah Ngabang. Sementara di Kapuas Hulu tetap dalam kondisi tidak aman selama berbulan-bulan.
Pembantaian yang dilakukan militer Jepang telah melenyapkan para elit lokal setempat. Para penguasa pribumi Borneo Barat lainnya juga dihukum mati. Banyak pegawai dan mantan pegawai, anggota organisasi nasionalis sebelum perang, wartawan, dokter terutamanya, guru, para istri orang Eropa, dan semua orang yang memiliki status hukum sebagai Golongan Eropa, ditangkap dan dibunuh.
Beberapa orang dari korban tersebut adalah para pengusaha kaya Tionghoa, konglomerat lokal pada zamannya, yang dituduh mengelak dari monopoli perdagangan resmi atau memiliki uang dalam jumlah besar.
Ng Ngiap Soen yang memimpin Kakyo Toseikai tewas karena disiksa sebagaimana dijelaskan dalam Dokumen Laporan Interogasi Pontianak Februari 1946. Ng Ngiap Kan (dalam pengucapan Mandarin: Huang Yejiang), pemilik pabrik es dan kepala sebuah organisasi di Singkawang, kemungkinan dia saudara atau sepupu laki-laki dari Ng Ngiap Soen, juga menjadi korban lainnya.
Sebuah pernyataan anonim menggambarkan metode yang digunakan dalam eksekusi tersebut. Dari sebuah pernyataan yang dikeluarkan dalam bahasa Belanda, Inggris dan Tionghoa, dalam sebuah surat kabar Tionghoa di Pontianak menyebutkan bahwa anggota komplotan telah ditembak, namun ketika mayatnya digali pada 1947, terlihat bahwa mereka kebanyakan dipenggal kepalanya.
Diuraikan di sana, setelah lewat tengah malam mereka diambil dari penjara. Kepala mereka ditutupi karung, dan digiring ke dalam sebuah truk tertutup dan mereka dibawa ke sebuah bandara yang belum jadi di sekitar Mandor sekarang. Di sana mereka dikubur hidup-hidup atau dipancung dan dibuang ke dalam lubang-lubang yang digali untuk keperluan ini.
Kebanyakan eksekusi tersebut dilakukan dekat Mandor. Terdapat sekurang-kurangnya 8 kali peristiwa ekskusi ini. Para algojo diambil dari Tokeitai atau polisi rahasia.
Dari penuturan-penuturan dalam bahasa Indonesia seringkali menyebutkan peran Kempeitai dalam pembunuhan ini. Namun sejatinya organisasi ini tidak pernah ada di Borneo. Tidak seperti Kempeitai yang dilatih secara profesional, kebanyakan anggota Tokeitai adalah para pemuda desa dengan sedikit pendidikan atau pelatihan untuk pekerjaan ini.
Mungkin karena inilah mereka nampaknya menurut begitu saja terhadap perintah untuk membunuh para korbannya, yang biasanya dilakukan dengan cara memenggal kepala para korban dengan pedang atau samurai.
Artikel dalam Borneo Shimbun menyebutkan bahwa kebanyakan penangkapan terjadi selama Oktober 1943. Dan gelombang penangkapan kedua pada 24 Januari 1944 yang terjadi di Singkawang dan nampaknya diawali dengan tertangkapnya seorang Tionghoa yang membawa sebuah alat penerima radio terlarang, kemudian dirinya mendadak dikelilingi oleh sekumpulan sisa-sisa pesekongkolan, kebanyakan di antara mereka adalah para pengusaha Tionghoa.
Korban yang tertangkap disiksa oleh militer Jepang dan polisi setempat dengan tuduhan terlibat dalam suatu persekongkolan. Orang lainnya kemudian dijerat dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya atau dengan "surat beracun".
Di antara mereka yang ditangkap ini ialah Tjhen Tjhong-hin (Mandarin: Chen Changxing), bekas ketua Kamar Dagang yang juga menjabat sebagai pemimpin Kakyo Toseikai, suatu organisasi yang pada mulanya disponsori Jepang bagi Tionghoa Perantauan.
Dia dituduh mengorganisir persekongkolan untuk membentuk sebuah daerah otonomi Borneo Barat di bawah kekuasaan Chungking. Rezim Pemerintahan Militer Jepang menyatakan bahwa komplotan di Singkawang ini berencana untuk meracuni orang-orang Jepang.
Dikatakan juga bahwa orang Tionghoa ini telah melakukan sabotase perekonomian dengan membeli bahan-bahan mentah dan tidak mau menjualnya ke orang Jepang. Peristiwa orang Tionghoa itu kembali "mengambinghitamkan" orang Tionghoa lainnya, menyalahkan atas terjadinya kerusakan ekonomi ke pundak mereka, walaupun pada kenyataanya hal ini disebabkan oleh kebijakan yang diberlakukan oleh tentara pendudukan Jepang itu sendiri.
Para korban yang lainnya dipenggal kepalanya antara Desember 1944 dan Februari 1945 di dekat lapangan terbang Pontianak atau Sungai Durian, oleh anggota Tokeitai dan Keibitai (polisi pengintai).
Mereka dikuburkan dalam sebuah kuburan massal yang digali secara terpaksa oleh para calon korban itu sendiri. Pembunuhan tahap ini di sana dilakukan sekurang-kurangnya dua kali.
Penggeledahan resmi terhadap senjata dan radio hanya menemukan dua pucuk revolver, namun dalam proses penggeledahan oleh militer Jepang tersebut juga dirampas berbagai barang berharga berupa uang, perhiasan dan emas.
Banyak orang Tionghoa meninggalkan kota mengungsi ke pedalaman, tak sedikit yang pindah ke kebun-kebun karet mereka. Dan sebagian besar lainnya, seperti yang dilakukan orang Tionghoa yang berada di Malaya, menjadi penghuni liar.
Penulis: Syafaruddin Daeng Usman, peminat kajian sejarah di Kalimantan Barat
Baca juga: Ada Apa Dengan Peristiwa Mandor 1944?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....