Bubur Suro, Nasi Tumpeng, dan Kue Apem dalam Tradisi 1 Suro/Muharram

  • 19 Jun 2026 11:13 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID,Pontianak : 1 Muharram dalam kalender Hijriah dan 1 Suro dalam tradisi Jawa sering disambut dengan berbagai sajian khas yang sarat makna. Di antaranya adalah bubur suro, nasi tumpeng, dan kue apem yang menjadi simbol doa, syukur, dan harapan kebaikan.

Bubur suro biasanya dibuat dari beras yang dimasak bersama berbagai pelengkap seperti kacang-kacangan dan sayuran. Makanan ini melambangkan kebersamaan, kesederhanaan, serta harapan agar kehidupan berjalan harmonis sepanjang tahun.

Dalam tradisi masyarakat, bubur suro juga menjadi sarana berbagi kepada tetangga dan kaum yang membutuhkan. Nilai berbagi tersebut mengajarkan bahwa rezeki akan terasa lebih berkah ketika dinikmati bersama orang lain.

Nasi tumpeng yang berbentuk kerucut memiliki makna penghambaan manusia kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Puncak tumpeng menggambarkan tujuan hidup yang mengarah kepada kebaikan, ketakwaan, dan kedekatan kepada-Nya.

Berbagai lauk yang mengelilingi tumpeng melambangkan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Meski berbeda sifat dan latar belakang, setiap orang dapat hidup rukun dan saling mendukung dalam kebaikan.

Kue apem berasal dari kata "afwan" yang berarti maaf atau ampunan dalam bahasa Arab menurut sebagian pendapat budaya masyarakat. Karena itu, kue apem sering dihubungkan dengan harapan memperoleh ampunan serta membersihkan diri dari kesalahan masa lalu.

Melalui bubur suro, nasi tumpeng, dan kue apem, masyarakat diajak untuk merenungi perjalanan hidup dan memperbaiki diri. Tradisi ini bukan sekadar menikmati hidangan, tetapi juga menjadi pengingat untuk memulai tahun baru dengan niat yang lebih baik. Tradisi akan bernilai tinggi jika diisi dengan doa, syukur, dan perbuatan baik.




Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....