Kenapa Orang dengan Ego Tinggi Sulit Menerima Kritik?
- 24 Mei 2026 08:54 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak — Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “ego tinggi” sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang keras kepala, sulit mengalah, atau selalu ingin menang sendiri. Orang dengan ego tinggi biasanya terlihat percaya diri, sulit menerima kritik, dan cenderung ingin mempertahankan pendapatnya apa pun situasinya.
Namun di balik sikap tersebut, ego tinggi sebenarnya tidak selalu sesederhana “merasa paling hebat”. Pada beberapa orang, ego justru menjadi bentuk perlindungan diri terhadap insecurity, rasa takut dianggap lemah, gagal, atau tidak dihargai.
Psikolog menyebut ego sebagai bagian dari diri yang membantu seseorang mempertahankan identitas dan harga dirinya. Dalam kadar yang sehat, ego dibutuhkan agar seseorang memiliki batasan diri dan rasa percaya diri. Namun ketika terlalu dominan, ego dapat memengaruhi hubungan sosial, komunikasi, hingga kesehatan emosional.
Orang dengan ego tinggi sering kali sulit menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut disampaikan dengan baik. Mereka cenderung merasa diserang atau direndahkan sehingga lebih memilih defensif dibanding mendengarkan atau mempertimbangkan kritik yang dilontarkan.
Tidak jarang, sikap defensif ini muncul dalam bentuk omongan besar, merasa paling benar, atau merendahkan orang lain. Beberapa orang memilih terlihat superior untuk menutupi rasa takut dianggap gagal atau salah. Karena itu, ada orang yang tampak sangat percaya diri di luar, tetapi sebenarnya mudah merasa terancam ketika harga dirinya disentuh.
Dalam penelitian psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan fragile self-esteem atau harga diri yang rapuh. Psikolog Michael H. Kernis dalam jurnal Psychological Inquiry menjelaskan bahwa seseorang bisa terlihat percaya diri, tetapi sebenarnya memiliki rasa aman yang tidak stabil sehingga lebih mudah defensif terhadap kritik maupun penolakan.
Penelitian lain oleh Brad Bushman dan Roy Baumeister dalam Journal of Personality and Social Psychology juga menunjukkan bahwa individu dengan ego tinggi atau sifat narsistik lebih mudah menunjukkan agresi, marah, atau merendahkan orang lain ketika egonya merasa terancam. Sikap tersebut sering menjadi cara untuk mempertahankan citra diri agar tetap terlihat unggul di depan orang lain.
Akibatnya, komunikasi menjadi melelahkan. Dalam pertemanan, hubungan keluarga, maupun relationship, seseorang yang terlalu mempertahankan ego biasanya sulit mengakui kesalahan atau meminta maaf lebih dulu. Tidak jarang konflik kecil menjadi besar hanya karena kedua pihak sama-sama tidak ingin mengalah.
Menariknya, beberapa penelitian psikologi menunjukkan bahwa sikap terlalu defensif kadang muncul bukan karena seseorang benar-benar merasa superior, melainkan karena memiliki rasa tidak aman (insecurity) yang disembunyikan. Psikolog Phebe Cramer dalam bukunya Protecting the Self: Defense Mechanisms in Action menjelaskan bahwa sebagian orang menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk melindungi harga dirinya dari rasa malu, takut gagal, atau takut terlihat lemah. Hal ini bisa muncul dalam bentuk sikap keras, sulit mengakui kesalahan, hingga kebutuhan untuk selalu terlihat lebih baik dibanding orang lain. Karena itu, ada orang yang terlihat sangat keras di luar, tetapi sebenarnya takut dianggap gagal atau tidak cukup baik.
| Baca juga: Berbekallah untuk kehidupan yang Abadi |
Di media sosial, ego tinggi juga sering terlihat dalam bentuk kebutuhan untuk selalu terlihat benar, lebih sukses, atau lebih unggul dibanding orang lain. Validasi dari lingkungan kadang membuat seseorang terus mempertahankan citra tertentu meski sebenarnya lelah secara emosional.
Meski begitu, memiliki ego bukan berarti hal yang sepenuhnya buruk. Ego membantu seseorang mempertahankan harga diri dan tidak mudah diremehkan. Masalahnya muncul ketika ego membuat seseorang sulit mendengar orang lain, sulit introspeksi, dan merasa harus selalu menang dalam setiap keadaan.
Pada akhirnya, orang yang benar-benar dewasa bukanlah yang selalu paling benar, tetapi yang mampu mengendalikan egonya. Karena dalam banyak hubungan, kemampuan memahami dan menghargai orang lain sering kali jauh lebih penting dibanding sekadar memenangkan perdebatan. Terkadang, orang yang paling keras bukanlah yang paling kuat. Bisa jadi, mereka hanya paling takut terlihat lemah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....