Van Houten Pengolah Awal Cokelat di Holland

  • 05 Mei 2026 10:35 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Saya termasuk penyuka minuman kakao atau cokelat.

Serupa juga banyak orang menyukai kopi. Sudah sejak lama terbiasa menikmati minuman cokelat hangat bersama biskuit tentunya di pagi hari.

Saat berada di Negeri Belanda belum lama tadi, kami mampir ke toko khusus penjual aneka jenis olahan cokelat. Tempatnya ramai dikunjungi, meski ruangannya tak terlampau besar.

Seketika saya teringat cokelat bubuk yang biasa saya nikmati, kemasannya dinamai Van Houten. Biasanya dalam kotak mini sebagai sampul kemasan di dalam plastik berisi bubuk cokelat. Aromanya segar dan terbilang khas.

Ingat namanya saya pun ingin bertanya mengapa bubuk kakao olahan ini diberi lebel Van Houten? Dari pramuniaga, seorang gadis Eropa, di toko itu saya diberi penjelasan rinci. Dia menjelaskan dengan sangat ramah dan bersahabat.

Van Houten berasal dari nama Coenraad Johannes van Houten. Dia seorang Belanda dan dikenal luas sebagai seorang ahli kimia. Dan dia pula yang mula-mula membuat olahan bubuk cokelat di Belanda. Dan dia pula yang menemukan mesin pengepres biji kakao hidrolik pada tahun 1828.

Inovasi yang dirancangnya ini memungkinkan pemisahan mentega kakao, menghasilkan bubuk cokelat yang lebih mudah larut dan lezat. Hasil olah pikir dan kerja inovatif dia inilah yang kemudian dipatenkan dan diproduksi secara massal. Termasuklah olahannya itu yang dinikmati dalam seduhan air panas di luar Eropa.

Saya lihat disejumlah kota dan negara di Eropa Barat khususnya, tak menutup peluang perdagangan olahan cokelat. Bukan hanya di Amsterdam, di Luxembourgh bahkan dari bahan cokelat dibuat manekin khas negara itu.

Di sudut Amsterdam suatu sore, saya bersama istri dan dua orang teman kami, Adeline dan Hans, di suatu kafe kami menikmati sajian minuman cokelat hangat dan biskuit renyah bahan gandum. Tidak perlu dicampurkan gula cukup banyak, larutan cokelatnya sudah terasa manis di lidah.

Meningkahi suasana minum cokelat sore itu, kami cukup terhibur dengan alunan musik instrumental yang diperdengarkan di kaffe ini. Dengan merogoh kocek mengeluarkan beberapa euro, selera minum sudah terpuaskan.

Dalam perjalanan pulang ke hotel tempat kami menginap yang tak seberapa jauh dari kaffe yang anggun dan eksotis ini, saya bergumam dalam hati tentang penamaan cokelat bubuk di Indonesia dengan kemasan Van Houten.

"Oh itu rupanya dinamakan Van Houten, sebagaimana nama banyak lelaki di Holland ini. Ingat juga dengan nama lain serupa Van Der Miller dan lain sebagainya", gumam saya sambil memasuki kamar untuk rehat malam (***)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....