RRI.CO.ID, Pontianak - Fenomena sampah antariksa yang muncul di langit Lampung baru-baru ini menjadi perhatian masyarakat luas. Peristiwa tersebut terjadi pada malam 4 April 2026, ketika warga melihat benda bercahaya melintas di langit dan bahkan terdengar dentuman. Banyak orang awalnya mengira objek tersebut adalah meteor atau bahkan benda berbahaya, namun setelah diteliti, fenomena itu dipastikan sebagai sampah antariksa berupa sisa roket.
Sampah antariksa sendiri adalah benda buatan manusia yang sudah tidak berfungsi dan tetap berada di luar angkasa, seperti satelit mati atau bagian roket. Dalam kasus di Lampung, objek yang terlihat merupakan bagian dari roket Long March (CZ-3B) milik Tiongkok yang sebelumnya digunakan untuk peluncuran satelit. Setelah menyelesaikan misinya, bagian roket tersebut tetap mengorbit Bumi sebelum akhirnya jatuh kembali ke atmosfer.
Ketika sampah antariksa memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menyebabkan suhu meningkat sangat tinggi sehingga benda tersebut terbakar dan tampak bercahaya dari permukaan. Proses ini juga membuat objek sering terlihat pecah menjadi beberapa bagian, seperti yang disaksikan warga Lampung. Fenomena tersebut terjadi karena ketinggian orbit objek menurun akibat hambatan atmosfer, hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer yang lebih padat.
Meskipun terlihat menakutkan, para ahli menegaskan bahwa kejadian ini umumnya tidak berbahaya. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi. Hanya sebagian kecil fragmen yang mungkin bertahan, dan kemungkinan jatuh di wilayah permukiman sangat kecil karena sebagian besar permukaan Bumi terdiri dari lautan dan area tidak berpenghuni.
Fenomena di Lampung juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk dilintasi sampah antariksa. Hal ini disebabkan letak geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa, yang menjadi jalur orbit banyak satelit dan roket. Oleh karena itu, kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi dan bisa saja terulang di masa depan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pemantauan aktivitas antariksa secara global dan peningkatan literasi masyarakat tentang fenomena luar angkasa. Dengan semakin banyaknya peluncuran satelit, jumlah sampah antariksa juga terus meningkat. Oleh sebab itu, kerja sama internasional dan pengembangan teknologi pemantauan sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko serta memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....