Mengenang Sekolah OVVO Pontianak
- 09 Mar 2026 10:09 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Dulu di atas tahun 1945, di Pontianak ada dua Sekolah Rakyat (SR). Peninggalan masa yang silam. Selain SR I di Jalan Norali, ada lagi SR II masa belajar 6 tahun di Kampung Melayu. Kampung Melayu ini sekarang kawasan Jalan Tanjungpura, sedari persimpangan Jalan Diponegoro hingga jembatan Parit Tokkaya berdekatan mall Ramayana.
SR II 6 tahun Kampung Melayu ini untuk zaman itu boleh dibilang di pinggir, bahkan luat kota. Sekalipun gedung ini berhadapan dengan kantor Demang Pontianak atau kantor Wedana. Pejabat Demangnya di tahun 1947-an ketika itu Nuriman bersama stafnya M Saleh Hamzah.
Sekolah ini dikepalai Salimin dengan beberapa orang gurunya antara lain Junaidi, Burhan Ibrahim dan Zar'in. Selain itu di bangunan belakang sekolah khusus untuk kelas 1 hingga kelas 3 ada dua orang guru, A Hamid Lahir dan B Manurung.
Kebanyakan siswanya tinggal di kawasan Gang Nurdin, Sargo, Kelenteng dan Tengah. Dari rumah ke sekolah ini mereka berjalan kaki menempuh jarak tak kurang 3 kilometer. Mereka melewati pekuburan Cina atau Sentiong, kebun sayur, juga Kebon Darat, Hijas dan beberapa gang kecil.
Rasa kekeluargaan antar murid tinggi sekali. Nyaris tak pernah ada perkelahian sesama siswa. Di sekolah ini regu olahraga kastinya sangat diperhitungkan, murid pemainnya antara lain Parel, Jantje, Mat Awal, Wan Usman (almarhum Prof H Wan Usman). Ini merupakan grup olahraha kasti terkuat di Pontianak masa tersebut.
Permulaan tahun 1948 murid-murid menamatkan pendidikannya setelah enam tahun belajar. Mereka kemudian memilih masing-masing jurusannya untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Ada yang masuk SMP seperti Wan Usman, Wan Aminudin dan Hasri. Ada juga yang meneruskan ke ST seperti Husin Sakman dan A Rani Wagio. Dan ada pula yang memilih bekerja seperti Zainal Abidin dan M Saleh Dinil.
Tetapi sebagian besar meneruskan ke OVVO (Opleyding Voor Volkschool Onderweyser) atau Sekolah Guru Pengajar di Sekolah Desa yang dipersiapkan untuk menjadi guru SR 3 tahun, diantaranya Selamat Muslana.
Mereka yang masuk OVVO tidak dipungut biaya sekolah. Sebaliknya mereka memperoleh tunjangan atau "tulage" sebesar Rp17,50 setiap bulannya. Dan selain itu setelah tamat dari OVVO akan langsung diangkat sebagai guru.
Sekolah OVVO menumpang di ruangan SMP yang kemudian menjadi SKP dan belakangan sebagai bangunan Bank BNI di Jalan Rahadi Osman atau dekat dermaga fery Jalan Bardan Nadi sekarang.
Guru atau pengajar OVVO angkatan kedua tahun 1949-1950 adalah Engku Hasan, kelahiran Sambas, berijazah Normal School (NS) Banjarmasin.
Di OVVO terdapat 36 orang murid dengan gurunya Engku Hasan. Mereka berpakaian sederhana, dan ke sekolah tanpa alas kaki atau disebut "kaki ayam". Adapun muridnya kebanyakan dari luar Pontianak berasal dari Mempawah dan Ketapang. Sedangkan murid SMP berpakaian necis.
Generasi OVVO diberikan pembelajaran untuk jadi guru SR 3 tahun di desa hanya ada tiga angkatan. Angkatan pertama muridnya antara lain Uray Yakob, Wagimin, D Nawi, Sariyem dan Zainuddin. Angkatan kedua Selamat Muslana, dan angkatan terakhir atau ketiga Ahmad Ali, Mat Saron, Latifah Oni, Syarif Mochdar dan Mahmud Cengkong.
Angkatan Uray Yakob dan Wagimn terbilang mujur. Mereka setelah tamat mendapat "impassing" golongannya II/B dan bekerja mulai 1949. Sedangkan angkatan terakhir seperti Achmad Ali, Idrus dan Islamiah melanjutkan ke SGB yang dibuka kembali pada 1951 dan langsung masuk kelas III bersama murid-murid yang berasal dari Sambas.
Adapun angkatan kedua, sejumlah 34 orang tamatan, mereka langsung menjadi guru di pedesaan dan pedalaman. Angkatan ini antara lain Kiman AB Kusno di Teluk Pakkedai, M Tayib di Sungai Bundung, Jabir di Mandor, Arsyad di Sungai Rengas, Selamat Muslana di Kampung Saigon, Daeng Kabit di Antibar, Fatimah di Gang Kapitan Pontianak, Syarif Mochdar di Siantan dan lainnya. Pada umumnya mereka menerima gaji sebesar Rp97,50 dan golongan II/A.
Pada awal tahun 1950 di Pontianak berdiri SR 3 di Kampung Saigon. Kepala sekolahnya Rasyidi orang Ketapang pindahan dari SR 3 tahun di Sungai Bakau Kecil.
Di kampung ini tersohor beberapa nama pemuka masyarakat yang taat beragama dan jadi panutan masyarakatnya, antara lain HA Razak. Beliau inilah yang memberikan wakaf untuk mendirikan SR 3 Kampung Saigon.
Terdapat pula H Abdussamad mufti Kesultanan Pontianak dan H Azhari Jamaluddin ketua Mahkamah Balai Agama dan Ustadz Fauzi qori al-Quran kenamaan.
Beberapa orang murid di kelas I SR Kampunh Saigon di tahun 1950 antara lain Hulaimi, M Fuadi, M Rais, Jayadi, Rosminah, M Najib. Dua orang siswi, Nur Asma dan Nur Laila dikenal sebagai qoriah kenamaan Kalimantan Barat.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat kajian sejarah dan budaya