Siti Aminah Ibunda Rasulullah Muhammad SAW

  • 26 Feb 2026 20:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Siti Aminah, ibunda Rasulullah SAW, wafat ketika Nabi Muhammad SAW berusia 6 tahun. Beliau wafat di Abwa’ dalam perjalanan pulang setelah berziarah ke makam suaminya, Abdullah, di Madinah. Sejak itu, Muhammad menjadi yatim piatu.

Mengutip Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings, Aminah adalah putri Abdul Wahab, cucu Zuhrah, saudara Qushy. Wahab sendiri adalah pemimpin Bani Zuhrah. Setelah dia meninggal, Aminah diasuh oleh pamannya, Wuhaib, yang meneruskan jabatan Wahab sebagai pemimpin kabilah.

Masih menurut catatan Lings, pernikahan antara Abdullah dan Aminah terjadi pada 569 Masehi. "Tahun setelah itu dikenal sebagai Tahun Gajah, dan itu sangat penting berdasarkan beberapa alasan," tulisnya.

Siti Aminah meninggal di usia yang sangat muda. Ketika itu usianya sekitar 27 tahun. Sementara sang putra, Muhammad bin Abdullah, masih berusia 6 tahun ketika ditinggal untuk selama-lamanya.

Sebagaimana disebutkan, Aminah adalah perempuan dari kabilah Bani Zuhrah. Ini adalah salah satu klan Suku Quraisy yang menjadi penjaga Kabah. Siti Aminah merupakan putri Wahab bin Abd Manaf dan Barrah binti Abd al-Uzza, yang lahir pada sekitar tahun 549.

Pernikahan antara Aminah dan Abdullah berawal dari pertemuan keluarga Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad, yang datang untuk melamar Aminah untuk putranya. Lamaran keluarga Abdul Muthalib untuk meminang Aminah diterima karena kebaikan Abdullah, bahkan keluarga Wahab tidak meminta mahar untuk putrinya.

Walau demikian, mahar tetap diberikan kepada Aminah saat menikah dengan Abdullah. Abdul Muthalib juga sempat memberikan sebuah pidato ketika pernikahan mereka.

Pernikahan itu melahirkan Muhammad, yang lahir pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan 570 Masehi, dan disebut sebagai Tahun Gajah. Kemungkinan, Aminah mulai mengandung Muhammad pada bulan Rajab.

Berdasarkan Anwarul Muhammadiyah yang ditulis oleh Syekh Yusuf bin Ismail An Nabhani, dijelaskan bahwa Allah SWT menitipkan ruh Nabi Muhammad dalam kandungan Siti Aminah pada malam Jumat di bulan Rajab. Selama Aminah hamil, Abdullah jarang berada di rumah karena harus berdagang ke negeri seberang.

Ketika usia kandungan Aminah menginjak enam bulan, Abdullah pergi untuk selama-lamanya tanpa sempat melihat sang putra lahir ke dunia. Abdullah wafat karena sakit dalam perjalanan dagangnya ke Syam (Suriah) dalam kondisi hanya meninggalkan harta benda berupa lima ekor unta dan satu ekor kambing, serta seorang budak bernama Ummu Aiman, yang kemudian menjadi pengasuh Nabi Muhammad.

Menurut sebuah riwayat, ketika usia kandungan Aminah sembilan bulan, cahaya memenuhi rumahnya. Dalam proses melahirkan Muhammad, mertuanya, Abdul Muthalib tengah bermunajat di Ka’bah, sehingga Aminah sendirian di rumah. Aminah pun menangis karena tidak ada orang yang menemani dirinya dan membantunya melahirkan.

Tapi tiba-tiba di hadapannya muncul empat orang wanita. Dikisahkan dalam kitab An Ni’matul Kubra ‘Alal Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar Haitami, empat perempuan tersebut berparas cantik, anggun, dan harum. Saat Aminah bertanya, mereka memperkenalkan diri sebagai Siti Hawa (istri Nabi Adam), Siti Sarah (istri Nabi Ibrahim), Siti Maryam (ibunda Nabi Isa), dan Asiyah binti Muzahim.

Keempat wanita yang diutus oleh Allah SWT tersebut juga mengucapkan selamat kepada Aminah karena beruntung telah mengandung Muhammad.

Setelah Muhammad lahir, Siti Aminah tidak menyusuinya hingga selesai. Sesuai tradisi Arab zaman dulu, persusuan bayi harus diserahkan kepada murdiat atau para perempuan yang menyusui bayi. Perempuan “beruntung” itu di antaranya adalah Halimah Sa'diyah.

Entah kenapa, saat itu, hanya Halimah satu-satunya orang di Bani Sa'ad yang bersedia menyusui Nabi Muhammad, karena saat itu para perempuan di sana enggan untuk menyusui anak yatim atau tidak memiliki ayah. Setelah dua tahun, Halimah mengembalikan Nabi Muhammad kepada sang ibu, Aminah.

Ketika Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajaknya berziarah ke makam ayahnya di Madinah. Perjalanan Aminah dan Muhammad ke Madinah dilakukan dengan mengendarai unta, ditemani oleh Ummu Aiman, budak Abdullah.

Setelah selesai, mereka kembali ke Mekkah. Sepanjang perjalanan pulang, Aminah memberi perhatian lebih kepada Muhammad dan mengajarkan beberapa hal penting. Saat itu, ternyata Aminah menderita sakit dan memutuskan untuk singgah di Desa Al Abwa, yang terletak antara Mekkah dan Madinah. Karena sakitnya terlalu parah Aminah akhirnya wafat di Al-Abwa pada sekitar tahun 577/578. Muhammad pun menjadi yatim piatu sejak itu.

Syafaruddin DaEng Usman, Penulis buku Risalah Sirah Rasulullah

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....