Muda Mulai Menanam untuk Ketahanan Pangan

  • 06 Feb 2026 11:57 WIB
  •  Pontianak

Budaya Menanam untuk Ketahanan Pangan terlebih para generasi Muda. Tentu, ini adalah topik yang sangat krusial di era sekarang. Menanam bukan lagi sekadar hobi "orang tua" di desa, melainkan sebuah aksi positif terhadap ketergantungan pangan global.

Mengapa Generasi Muda Harus Kembali ke Tanah? Di era serba instan, kita sering lupa bahwa makanan tidak "lahir" di rak supermarket atau aplikasi ojek online. Di balik kemasan plastik yang rapi, ada rantai pasok yang panjang, rapuh, dan berdampak besar pada lingkungan. Inilah mengapa budaya menanam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi generasi muda untuk menjaga ketahanan pangan di masa depan. Alasannya adalah:

1. Kedaulatan di Tangan Sendiri

Ketahanan pangan bukan hanya soal adanya stok makanan, tapi soal siapa yang mengontrolnya. Dengan menanam sendiri—meskipun hanya cabai, tomat, atau kangkung di pot—kita memutus ketergantungan pada pasar global yang fluktuatif. Generasi muda yang mandiri secara pangan adalah generasi tangguh yang siap di tantangan masa yg akan datang.

2. Koneksi Mental dan Kesehatan

Menanam adalah bentuk "meditasi" yang membumi. Di tengah gempuran layar digital, berinteraksi dengan tanah dan melihat benih tumbuh memberikan kepuasan psikologis yang tidak bisa didapatkan dari media sosial. Selain itu, kita mendapatkan asupan pangan yang jauh lebih sehat, organik, dan tanpa pestisida berlebih.

3. Menghapus Stigma Petani itu "Kotor"

Sudah saatnya kita mengubah narasi bahwa bertani adalah pekerjaan kelas bawah. Dengan sentuhan teknologi (Smart Farming) dan kreativitas pemasaran, generasi muda bisa mengubah budaya menanam menjadi agropreneurship yang keren dan menjanjikan secara finansial.

"Satu benih yang kamu tanam hari ini adalah jaminan bahwa kamu tidak akan kelaparan di masa depan yang tidak pasti."

Budaya menanam adalah investasi jangka panjang. Jika anak muda tidak memulai hari ini, kita hanya akan menjadi penonton saat krisis pangan benar-benar mengetuk pintu rumah kita. Mari mulai dari satu pot di balkon atau satu petak di halaman atau satu kapling di lahan atau 1 hektare bagi yang ada lahan luas.


Penulis: Abdullah, Ketua IPUBI (Ikatan Petani Udara Bersih Indonesia) Kabupaten Kubu Raya


Baca juga: Galakkan Tanaman Hortikultura

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....