Filosofi Kue Singkip-Singkip – Kuliner Khas Istana Pontianak

  • 27 Sep 2025 16:50 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Kata “singkip” dalam bahasa Melayu bermakna lipatan atau tutup cita rasa yang bertingkat. Bentuk lapisan pada kue singkip-singkip melambangkan perjalanan hidup manusia yang berproses secara bertahap: dari kelahiran, pertumbuhan, pendewasaan, hingga menuju kesempurnaan akhlak.

Cita rasanya merupakan perpaduan manis dan gurih yang seimbang, menjadi simbol harmoni antara duniawi dan ukhrawi. Tidak berlebihan, tidak pula kurang, melainkan keseimbangan sebagaimana manusia dituntut menjaga keselarasan jasmani dan rohani.

Dalam tradisi Istana Pontianak, singkip-singkip senantiasa hadir pada jamuan agung dan berbagai upacara adat. Kehadirannya mencerminkan sikap terbuka namun tetap menjaga tata krama, sebab setiap lapisan yang menutup isi kue menjadi simbol penghormatan, kesopanan, dan etika budaya Melayu.

Proses pembuatannya menuntut kesabaran dan ketelitian—mulai dari pengolahan adonan, pelapisan, hingga menjaga cita rasa. Lebih dari itu, singkip-singkip menjadi sarana kebersamaan, karena lazimnya dibuat bersama-sama oleh keluarga dan kerabat sebagai wujud silaturahmi.

Bahan-bahannya pun mencerminkan kearifan lokal: tepung, dengan bahan setempat, diperkaya dengan aroma cengkeh, kapulaga, dan kayu sepang khas Pontianak selalu terkolerasi dengan bahan air serbat, Semua bersumber dari kekayaan alam sekitar, melambangkan hubungan erat manusia dengan lingkungannya serta semangat keberlanjutan hidup.

Dengan demikian, kue singkip-singkip bukan sekadar hidangan istana, melainkan simbol:

Hidup yang berproses dan bertingkat.

Kesopanan serta tata krama Melayu Pontianak.

Keseimbangan hidup yang selaras antara manis dan gurih.

Tak heran bila kue singkip-singkip senantiasa dihadirkan pada hari pertama Idulfitri, khususnya untuk menjamu para kerabat ratu, sebagai lambang penghormatan, doa, dan kebahagiaan bersama.

Filosofi Kue Singkip-Singkip – Kuliner Khas Istana Pontianak

1. Makna Bahasa

"Singkip" berarti lipatan/tutup yang bertingkat.

Lapisan kue mencerminkan proses hidup manusia: lahir → tumbuh → dewasa → mencapai kesempurnaan akhlak.

2. Simbol Rasa dan Kehidupan

Perpaduan manis dan gurih → keseimbangan duniawi dan ukhrawi.

Hidup ideal: tidak berlebihan, tidak kurang, selaras jasmani-rohani.

3. Nilai Budaya Istana

Disajikan pada jamuan agung & upacara adat.

Lapisan yang menutup isi → simbol tata krama, kesopanan, dan penghormatan dalam budaya Melayu Pontianak.

4. Filosofi Proses Membuatnya

Menuntut kesabaran & ketelitian → cerminan etika hidup.

Dibuat bersama keluarga/kerabat → sarana silaturahmi dan kebersamaan.

5. Kearifan Lokal

Bahan: tepung, rempah cengkeh, kapulaga, kayu sepang, air serbat.

Semua dari alam sekitar → simbol hubungan manusia dengan lingkungan & keberlanjutan hidup.

6. Simbol Utama

Hidup berproses bertingkat.

Kesopanan & tata krama Melayu Pontianak.

Keseimbangan rasa dan harmoni hidup.

Doa, penghormatan, dan kebahagiaan bersama saat Idulfitri.

Adat istiadat Melayu di Kesultanan Kadriah Pontianak kaya akan nilai-nilai budaya yang berakar pada ajaran Islam dan tradisi leluhur. Salah satu aspek penting dalam adat ini adalah prosesi pernikahan adat Melayu, yang sarat dengan simbolisme dan makna filosofis. Mari kita bahas lebih rinci!

Adat Istiadat Melayu Kesultanan Kadriah Pontianak

1. Adat Bertamu dan Berpakaian

Masyarakat Melayu Pontianak dikenal menjunjung tinggi adab sopan santun. Saat bertamu, tamu harus memberi salam dan meminta izin masuk.

Busana tradisional pria: Baju Kurung Teluk Belanga dengan kain samping dan songkok.

Busana tradisional wanita: Baju Kurung Labuh dengan selendang, dan kadang dihiasi manik-manik atau sulaman emas.

2. Upacara Adat dan Keagamaan

Syukuran dan doa selamat untuk peristiwa penting, seperti kelahiran, khitanan, hingga naik rumah baru.

Maulid Nabi dan Adat Saprahan Melayu yang mempererat kebersamaan warga Kesultanan.

3. Sistem Kekerabatan dan Gelar Kebangsawanan

Struktur kekerabatan kuat, terutama di lingkungan keluarga kerajaan dan bangsawan.

Gelar kehormatan, seperti "Tengku," "Datuk," dan "Pangeran" menunjukkan status sosial yang dihormati.

Adat Pernikahan Melayu Pontianak

1. Merisik (Meninjau Calon Pengantin)

Keluarga calon mempelai pria mengutus wakil untuk menyelidiki calon pengantin wanita, memastikan kecocokan dari segi akhlak dan keluarga.

2. Meminang dan Bertunang

Setelah cocok, keluarga pria melamar secara resmi dengan membawa sirih pinang dan hantaran.

Acara tunangan dilakukan sebagai tanda ikatan sebelum hari pernikahan.

3. Bersiram dan Berinai

Bersiram (mandi bunga) untuk menyucikan diri secara lahir dan batin.

Berinai (menghias tangan dengan inai) sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan.

4. Akad Nikah dan Bersanding

Prosesi akad nikah dipimpin oleh imam atau penghulu, mengikuti syariat Islam.

Setelah akad, acara bersanding di pelaminan menjadi momen puncak. Pengantin duduk di singgasana bak raja dan ratu sehari.

5. Busana Pengantin

Pengantin pria: Baju Melayu Teluk Belanga atau Cekak Musang, lengkap dengan tanjak dan selempang.

Pengantin wanita: Baju Kurung Labuh berwarna cerah, dihiasi manik atau benang emas, lengkap dengan mahkota dan perhiasan khas.

6. Adat Tepung Tawar

Ritual ini bertujuan memberikan doa restu. Kedua pengantin diperciki air mawar dan taburan beras kuning, melambangkan keberkahan dan keselamatan.

7. Pantun dan Silat Pengantin

Dalam resepsi, sering ada pantun berbalas sebagai hiburan dan nasihat pernikahan.

Silat pengantin kadang dipertunjukkan sebagai simbol keberanian dan perlindungan dalam rumah tangga.

Makna Filosofis dalam Pernikahan Melayu

Kesopanan dan Hormat: Mengutamakan adab dalam setiap tahapan pernikahan.

Kebersamaan Keluarga: Pernikahan dianggap menyatukan dua keluarga besar, bukan sekadar dua individu.

Religiusitas: Selalu melibatkan doa dan keberkahan dari Allah, menunjukkan keterkaitan erat antara adat dan Islam.

Oleh: Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....