Gizi Optimal dan Peran Bersama Menuju Generasi Emas
- 24 Jan 2026 09:47 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Program Indonesia Sehat yang mengudara pada Jumat, 23 Januari 2026, membahas upaya mewujudkan Generasi Emas 2045 melalui pemenuhan gizi optimal. Dalam dialog tersebut, hadir Sekretaris Umum DPD Persagi Kalimantan Barat Jurianto Gambir, S.Si., M.Kes, yang menyoroti pentingnya peran lintas sektor dalam penanganan stunting.
Dalam kesempatan itu, Jurianto menyatakan bahwa seluruh pihak harus tetap optimistis bahwa Generasi Emas 2045 dapat diwujudkan. Namun, menurutnya, optimisme tersebut harus diikuti dengan kebijakan pemerintah yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar menjadi slogan semata.
“Segala sesuatu harus ada yang namanya kekonsistenan kebijakan pemerintah. Jadi, istilahnya kebijakan itu tidak hanya sebagai slogan, tapi tentang implementasinya. Harus benar-benar terimplementasikan dan dikawal. Jadi, apabila dari tingkat pusat sampai daerah sampai ke masyarakat,” ujar Gambir yang juga Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak.
Gambir menjelaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci keberhasilan program penanganan stunting. Ia menilai, meskipun upaya sudah dilakukan dari tingkat bawah, tanpa dukungan dari atas maka program akan sulit berjalan karena penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja.
Terkait kolaborasi multisektoral, Gambir menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak, mulai dari Persagi, pemerintah, dunia pendidikan, hingga sektor swasta. “Harus merasakan bahwa itu masalah bersama. Itu dulu. Jadi, kalau misalnya hanya satu instansi yang merasakan itu masalah, tentu merasa seolah-olah dia yang salah,” katanya, sembari menyoroti masih adanya dominasi instansi tertentu dalam beberapa pertemuan yang telah berjalan.
Selain peran lintas sektor, Gambir juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam upaya penurunan angka stunting. Ia menyoroti pola pengeluaran rumah tangga yang dinilai masih belum berpihak pada kelompok berisiko, seperti ibu hamil dan bayi.
“Seperti itu juga di masyarakat, kadang kita agak miris, kalau kita lihat di kampung di warung-warung, bapak-bapak di kampung itu kan banyak merokok ya? Kita kalikanlah rokok itu paling murah lima belas ribu kalikanlah 30 hari, empat ratus lima puluh ribu. Katakanlah apabila itu bisa ditekan dan difokuskan pada yang berisiko misalnya pada ibu hamil, bayi di rumah,” ucapnya.
Gambir juga menekankan perlunya pengelolaan program subsidi pemerintah agar tidak bersifat konsumtif dan lebih diarahkan pada pembangunan. Menurutnya, subsidi yang berlebihan tanpa diimbangi pembangunan justru dapat menghambat upaya penurunan stunting.
Baca juga: Persagi Pontianak Gelar Edukasi Gizi Kejar Rekor MURI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....