Sepak Bola Modern Dinilai Kehilangan Seni Bermain
- 23 Mei 2026 08:31 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Antusias menyambut FIFA World Cup 2026 mulai terasa di kalangan pecinta sepak bola Pontianak. Dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) yang disiarkan Pro 2 Pontianak pada Kamis, 21 Mei 2026, penyiar Naufal bersama pengamat sepak bola Nopi Suhadianto membahas dinamika sepak bola modern, kekuatan tim-tim unggulan dunia, hingga peluang negara Asia tampil mengejutkan di panggung Piala Dunia.
Dalam siaran tersebut, Nopi mengaku Piala Dunia 2002 menjadi momen yang paling membekas baginya. Menurutnya, turnamen di Jepang dan Korea Selatan itu menghadirkan pesona sepak bola yang berbeda, terutama lewat aksi Ronaldo Nazario bersama Brasil.
“Kalau paling memorable bagi saya itu Piala Dunia 2002. Dari situ saya mulai suka Inter karena melihat Ronaldo. Buat saya sepak bola zaman sekarang terlalu banyak sistem, sedangkan dulu pemain seperti Ronaldo masih bisa menghadirkan magic di lapangan,” ujarnya.
Obrolan yang juga disiarkan live di kanal YouTube Pro 2 RRI Pontianak terserbut, dibahas pula mengenai perubahan wajah sepak bola modern yang kini dinilai lebih mengutamakan taktik dibanding kreativitas individu. Nopi menilai era pemain penuh improvisasi seperti Ronaldo, Ronaldinho, hingga generasi awal Lionel Messi perlahan mulai sulit ditemukan karena permainan semakin seragam.
Selain membahas tim-tim favorit di Piala Dunia 2026, keduanya juga membahas penurunan performa tim nasional Italia yang kembali gagal lolos ke putaran final. Menurut Nopi, kegagalan Italia tidak lepas dari buruknya pengembangan pemain muda dalam beberapa tahun terakhir.
“Italia itu sebenarnya punya tradisi besar. Empat kali juara dunia bukan hal kecil. Tapi sejak 2014 mereka mengalami penurunan dalam pembinaan pemain muda. Akhirnya regenerasi mereka tidak siap,” katanya.
Obrolan semakin menarik ketika membahas kekuatan negara-negara Asia di Piala Dunia mendatang. Jepang disebut masih menjadi kekuatan utama Asia, sementara Uzbekistan dinilai berpotensi menjadi kuda hitam karena pembangunan ekosistem sepak bola usia mudanya yang berjalan serius dan berjenjang.
Menurut Nopi, Uzbekistan mampu berkembang karena fokus membangun fondasi sepak bola dari level akar rumput hingga fasilitas latihan yang memadai. Ia menilai Indonesia seharusnya bisa mencontoh pola pengembangan tersebut jika ingin bersaing di level dunia.
“Uzbekistan benar-benar investasi di pemain muda dari U-10 sampai U-16. Mereka manfaatkan dana FIFA untuk bangun lapangan, training ground, dan pembinaan yang jelas. Itu yang membuat perkembangan mereka cepat,” katanya.
Tak hanya itu, pembahasan juga melebar ke peluang negara-negara Eropa seperti Inggris, Kroasia, Prancis, dan Spanyol di Piala Dunia 2026. Inggris dinilai memiliki skuad bertabur bintang, sementara Kroasia dianggap tetap berbahaya berkat sistem permainan disiplin yang sudah terbentuk sejak lama.
Di akhir siaran, Naufal dan Nopi sepakat bahwa perbedaan waktu antara Indonesia dengan tuan rumah Piala Dunia 2026 kemungkinan akan memengaruhi antusiasme penonton di tanah air. Meski begitu, keduanya optimistis euforia sepak bola terbesar dunia itu tetap akan menjadi hiburan yang dinanti masyarakat Indonesia.
Baca juga: FIFA World Cup 2026: Estadio Azteca, Stadion Legendaris yang Siap Mengguncang Dunia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....