Kesultanan Pontianak dalam Bingkai Ketatanegaraan & Budaya Indonesia
- 09 Okt 2023 21:02 WIB
- Pontianak
Oleh Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur
Kesultanan ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang putra ulama keturunan Arab Hadramaut dari Kerajaan Mempawah, pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak.
Kesultanan ini tidak bisa dilepaskan dengan berdirinya Kota Pontianak, artinya mempelajari sejarah berdirinya Kota Pontianak, dimulai dari peristiwa tatkala Syarif Abdurrahman Alkadrie menjejakkan kakinya di tepian pertemuan Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak pada pagi hari Rabu tanggal 23 Oktober 1771. Menurut Hijriyah, ia dilahirkan di Matan pada 15 Rabiulawal 1151 H pada hari Senin pukul 10.00 pagi atau bersamaan dengan tahun 1739 Masehi. Jadi, ketika mendirikan Kesultanan Pontianak, Ia baru berusia 32 tahun.
Visi Syarif Abdurrahman dalam membuka wilayah baru tidak dapat dilepaskan dari latar sejarahnya. Sebagai keturunan dari Habib Husein Alkadri, seorang ulama dari Hadramaut, upayanya tersebut dipercaya masyarakat setempat didorong oleh cita-cita ayahnya untuk mengembangkan permukiman baru yang dapat dijadikan tempat mengajarkan Islam sekaligus berdagang. Dalam menjalankan misinya itu, Syarif Abdul Rahman mewarisi bakat ayahnya sebagai petualang imigran (imigrant adventurers) untuk menjadi penguasa di daerah baru (stranger kings).
Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Putra asli Kalimantan Barat. Ayahnya Sayid Habib Husein Alkadrie, seorang keturunan Arab yang telah menjadi warga Kerajaan Matan. Ibunya juga adalah seorang putri dari Kerajaan Matan, yang menurut penulis Belanda JJK Enthoven, adalah seorang putri Dayak yang telah menganut agama Islam. 17 Tahun lamanya Habib Husein menjadi ulama Islam di Kerajaan Matan.
Sayyid Husein Al Qadri kemudian pindah ke Mempawah, menjadi penyiar agama dan Tuan Besar Mempawah setelah Raja Mempawah Opu Daeng Menambun meninggal. Syarif Abdurrahman bergelar Pangeran karena Ia adalah putra Tuan Besar Mempawah dan ia pun menjadi menantu Raja Opu Daeng Menambun, ketika ia dikawinkan dengan Putri Candra Midi. Begitupun ketika ia kawin lagi dengan Putri Raja Banjar yang bernama Ratu Syahranon, ia diberi gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam
Siapakah yang berperan besar menjadi Syarif Abruhaman menjadi Sultan di Kesultanan Pontianak? Raja Muda Riau, Raja Haji, berperan banyak dalam mempersiapkan Syarif Abdurrahman menjadi Sultan Pontianak. Karena itu sudah dikenal oleh para Sultan dan Panembahan di Kalimantan Barat, maka Raja Haji berkirim surat mengundang para Panembahan Landak, Mempawah, Kubu, dan Sultan Matan serta Sukadana dan Sambas untuk datang berkumpul di Pontianak.
Kedatangan mereka dipersiapkan untuk menyaksikan pengangkatan Syarif Abdurrahman menjadi Sultan Pontianak. Yam Tuan Muda Riau Raja Haji adalah putra dari Opu Daeng Celak dari perkawinannya dengan Tengku Mandah, adik Sultan Sulaiman di Riau, Raja Kerajaan Mempawah. Syarif Abdurrahman dan menantu dari Opu Daeng Menambun. Inilah hubungan kekeluargaan yang mengukuhkan Raja Haji dari Riau bertindak jadi tuan rumah dalam mengangkat Syarif Abdurrahman menjadi Sultan Pontianak.
Pada hari Senin 8 Syakban 1192 H, dalam perjamuan keramaian yang dihadiri oleh para Sultan dan panembahan dari Matan, Sukadana, Simpang, Landak, Mempawah dan Sambas, Raja Haji meresmikan dan menobatkan Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam menjadi Sultan Pontianak. Di hadapan para hadirin, dengan suara keras Raja Haji berkata: “Adapun kami memberi tahu kepada sekaliannya bangsa di negeri Pontianak ini, kita telah angkat berpangkat nama Paduka Sri Sultan Syarif Abdurrahman bin almarhum Al Habib Husein Al Kadri, menjadi raja di atas tahta kerajaan di dalam negeri Pontianak, demikian juga adanya.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....