Musim Hujan Datang, Kalbar Waspadai Banjir dan Longsor
- 07 Okt 2026 08:15 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Musim hujan mulai memasuki sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Seiring perubahan musim dari periode kering, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, longsor, angin kencang, dan hujan lebat.
Dalam acara “Kentongan” RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026, Analis Meteorologi dan Klimatologi Ahli Madya BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat, Muhammad Elifant Yuggotomo, mengatakan sebagian wilayah Kalimantan Barat telah mulai memasuki musim hujan, terutama wilayah bagian tengah hingga utara.
“Secara umum awal musim hujan di Kalimantan Barat masuk pada September hingga Oktober, sedangkan wilayah selatan seperti Ketapang bagian selatan diprediksi baru memasuki musim hujan sekitar pertengahan November,” ujar Muhammad.
Ia menjelaskan, karakter musim hujan tahun 2026-2027 secara umum diprediksi normal hingga atas normal. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember hingga Januari.
Menurutnya, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan perlu diwaspadai karena berpotensi disertai hujan lebat, petir, dan angin kencang yang dapat memicu bencana.
“Masyarakat dihimbau selalu waspada. Ketika kita memprediksi normal, bukan berarti hujannya sedikit. Normalnya bisa dengan kondisi curah hujan yang tinggi,” katanya.
Muhammad juga mengingatkan masyarakat agar rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini BMKG. Salah satunya melalui aplikasi Info BMKG yang dapat memberikan informasi cuaca berdasarkan lokasi pengguna.
Sementara itu, Kepala Satgas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, menyebut terdapat 559 desa dan kelurahan di Kalbar yang berpotensi mengalami banjir. Wilayah rawan tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
“Jangan menunggu sudah terjadi banjir. Pemerintah kabupaten dan kota harus melakukan kesiapsiagaan di daerah masing-masing,” ujar Daniel.
Ia menyebut terdapat sejumlah ancaman bencana hidrometeorologi basah yang perlu diantisipasi, di antaranya banjir bandang, banjir genangan, angin puting beliung, serta tanah longsor atau tanah bergerak.
Daniel menekankan, tingginya intensitas hujan hanya menjadi salah satu pemicu banjir. Faktor kerusakan lingkungan, berkurangnya daerah resapan air, serta drainase yang tidak memadai turut memperbesar risiko.
Karena itu, masyarakat diminta mulai membersihkan parit dan saluran air di sekitar tempat tinggal sebelum curah hujan semakin tinggi.
“Jadi harus ada kepedulian terhadap lingkungan. Mulai bersihkan parit-parit di sekitar rumah, selokan dan lain sebagainya,” katanya.
BPBD juga mendorong pemerintah daerah memastikan lokasi evakuasi tersedia sebelum bencana terjadi serta meningkatkan kesiapsiagaan hingga tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa.
Masyarakat diminta mengenali ancaman bencana di wilayah masing-masing, menyiapkan langkah mitigasi dan mengetahui lokasi evakuasi. Jika bencana terjadi, warga juga diminta segera melaporkan kepada kepala desa atau camat agar dapat segera ditindaklanjuti pemerintah.
Sementara BMKG mengingatkan, meski sebagian besar wilayah Kalimantan Barat mulai memasuki musim hujan, wilayah selatan seperti Ketapang masih perlu mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan karena sebagian wilayah diperkirakan masih mengalami periode kering hingga November.
Perubahan ancaman bencana dari hidrometeorologi kering menuju basah membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan. Kolaborasi pemerintah, BPBD, BMKG, aparat, relawan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....