BBM, El Niño hingga Ekspor Alumina Pengaruhi Indikator BPS Kalbar

  • 02 Okt 2026 10:44 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Sejumlah peristiwa sepanjang September 2026 turut memengaruhi perkembangan indikator statistik Kalimantan Barat (Kalbar), mulai harga BBM hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Statistik Ahli Madya BPS Kalimantan Barat, Sri Suyatmi, mewakili Kepala BPS Kalbar Much. Saichudin, saat menyampaikan berita resmi statistik (BRS) di BPS setempat, Kamis, 1 Oktober 2026 menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamina menjadi salah satu fenomena yang perlu dicermati dalam perkembangan indikator harga.

Pada September 2026, harga Pertamax Turbo naik sekitar tujuh persen menjadi sekitar Rp20 ribu per liter. Sementara Dexlite meningkat sekitar 20 persen menjadi Rp24.200 per liter dan Pertamina Dex naik 19 persen menjadi Rp25.750 per liter.

Selain perubahan harga energi, fenomena El Niño dan karhutla turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Berkurangnya curah hujan dan kekeringan yang diproyeksikan berlangsung hingga awal 2027 berpotensi menghambat perkembangan tanaman dan menekan produksi hortikultura.

Kondisi tersebut juga memengaruhi pola tanam petani padi. Sebagian petani cenderung menggeser masa tanam karena mempertimbangkan ketersediaan air dan kondisi cuaca yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Kabut asap akibat karhutla turut berdampak terhadap sektor transportasi. Jarak pandang yang terbatas menyebabkan terganggunya mobilitas, termasuk pembatalan sejumlah penerbangan dan aktivitas transportasi sungai.

Dampak kabut asap juga terasa pada sektor pendidikan. Pemerintah daerah menerapkan kebijakan belajar dari rumah sejak awal September 2026 untuk mengurangi risiko akibat kondisi udara yang memburuk.

Seiring menurunnya kabut asap dan turunnya hujan, pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan mulai 28 September 2026. Kembalinya aktivitas sekolah turut menjadi bagian dari perubahan aktivitas masyarakat yang menjadi catatan BPS.

Di sisi lain, perkembangan positif terlihat dari aktivitas ekspor produk hilirisasi bauksit. Pada 28 Agustus 2026, Kalimantan Barat kembali mengekspor alumina sebanyak 471 ribu ton melalui Pelabuhan Dwikora dengan nilai mencapai sekitar Rp2,2 triliun.

Beragam fenomena tersebut menjadi catatan BPS Kalimantan Barat dalam membaca perkembangan indikator ekonomi dan sosial daerah. Perubahan harga energi, kondisi iklim, aktivitas masyarakat hingga kinerja ekspor menunjukkan dinamika yang berlangsung sepanjang periode pengamatan.

Baca juga: Ria Norsan Dorong Sinergi DPD RI Perjuangkan Aspirasi Daerah

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....