Pancasila di Layar Handphone: Kisah Gen Z Menyuarakan Keadilan Sosial

  • 30 Sep 2026 14:36 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober kembali menjadi momentum untuk melihat sejauh mana nilai-nilai dasar negara itu masih hidup di kalangan anak muda. Dua aktivis mahasiswa di Pontianak menegaskan, Pancasila tidak berhenti sebagai materi hafalan di bangku sekolah, melainkan terus dipraktikkan lewat cara-cara baru, termasuk di media sosial.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura, Ferdy Darmawan, menyebut nilai Pancasila kini jarang ditampilkan secara terang-terangan dalam gerakan mahasiswa. Namun, bukan berarti nilai itu hilang.

“Ketika mahasiswa menyuarakan aspirasi, membela kelompok yang tertindas, di situ sebenarnya nilai kemanusiaan, musyarawah, dan keadilan sosial sedang dijalankan,” ujarnya.

Ferdy mengingatkan, konsistensi menjadi kunci. Menuntut hak bersuara atas nama demokrasi, tetapi menutup telinga dari pendapat orang lain, menurutnya bertentangan dengan semangat Pancasila itu sendiri.

Dirinya juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa Gen Z cuek terhadap isu kebangsaan. Baginya, yang berubah hanyalah medannya.

“Generasi sebelumnya memang lebih sering turun ke jalan atau membentuk organisasi. Sekarang, kritik disampaikan lewat media sosial. Bentuknya beda, tapi kepeduliannya tetap ada,” katanya.

Meski begitu, Ferdy mewanti-wanti soal derasnya arus informasi di dunia maya. Menurutnya, media sosial memang mempermudah penyampaian aspirasi, tapi juga rawan disusupi hoaks yang perlu disaring sebelum dipercaya, apalagi disebarkan.

Ferdy Darmawan, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Rabu 30 September 2026. (Foto: Rico Ferdinand/MagangHub II 2026).

Pandangan searah datang dari Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Pontianak, Muhammad Efsal Syaputra. Dirinya menilai Pancasila semestinya menjadi pedoman hidup sehari-hari, bukan sekedar teks yang dihafalkan.

“Pancasila itu dibuat untuk merukunkan Indonesia, menyatukan kita meski beda suku, budaya, dan agama. Bukan cuma tulisan di buku,” ucap Efsal, yang saat ini juga magang di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Pontianak.

Namun Efsal jujur mengakui, tidak semua Gen Z sampai pada tahap itu. Menurutnya, cukup banyak yang memandang Pancasila sebatas formalitas, sesuatu yang pernah dipelajari tapi jarang diterapkan.

“Mereka tahu isi Pancasila, tapi tidak menjalankannya. Itu yang menurut saya cukup disayangkan dari generasi kita,” katanya.

Meski begitu, dirinya punya pengalaman yang justru membantah kesimpulannya sendiri. Dalam sebuah seminar toleransi yang pernah dirinya ikuti, mahasiswa dan pelajar SMA di Kalimantan Barat menunjukkan antusiasme tinggi ketika membahas keberagaman.

“Kalbar ini rumah bagi suku bangsa Melayu, Dayak, Madura, Tionghoa, dan banyak lagi. Mereka terbiasa hidup berdampingan, dan tetap sepakat menjaga toleransi,” ujarnya.

Bagi Efsal, momen itu membuktikan bahwa Sebagian Gen Z, terutama yang terbiasa berpikir kritis, sebenarnya masih menghidupkan nilai Pancasila meski tidak selalu menyebutnya secara eksplisit.

Ferdy dan Efsal sepakat pada satu hal: ruang digital kini menjadi arena baru bagi mahasiswa untuk mempraktikkan sila keempat dan kelima, mulai dari petisi daring, tagar viral, hingga kampanye kesadaran publik. Tantangan generasi ini, kata keduanya, bukan lagi soal apakah Pancasila masih relevan, melainkan bagaimana menjaga tanggung jawab dalam mengelola dan menyebarkan informasi di tengah derasnya arus digital saat ini.

Rico Ferdinad (MagangHub II 2026).

Baca juga: Cara Gen Z Menyikapi Kelamnya Sejarah 1965

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....