Kesalehan Digital Jadi Benteng Hadapi Karhutla dan Krisis Iklim

  • 15 Sep 2026 06:49 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, serta krisis air bersih di Kalimantan Barat tidak hanya perlu dihadapi melalui langkah penanganan di lapangan. Masyarakat juga dinilai perlu memanfaatkan ruang digital untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan dan mendorong perubahan perilaku.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Khalil Gunawan dalam dialog Mutiara Pagi, Jum’at, 11 September 2026, di RRI Pro 1 Pontianak, yang membahas “Kesalehan Digital di Tengah Asap Karhutla: Menyingkap Eksploitasi Alam dan Krisis Iklim melalui Advokasi Siber yang Beretika.”

Khalil menjelaskan, kesalehan seorang muslim di era digital tidak cukup hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui perilaku yang mencerminkan nilai moral, etika, akhlak, dan tanggung jawab sosial, termasuk dalam menggunakan media sosial.

“Kesalehan digital itu adalah bagaimana kita menerapkan nilai-nilai moral, etika, akhlak, dan tanggung jawab sosial dalam lini kehidupan, termasuk ketika kita menggunakan media sosial,” ujar Khalil.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi ruang untuk mengedukasi masyarakat mengenai lingkungan, khususnya ketika terjadi karhutla dan kabut asap. Masyarakat tidak seharusnya hanya menggunakan media sosial untuk mengeluh, tetapi dapat turut menyebarkan informasi yang mendidik dan mendorong kepedulian bersama. Ia mencontohkan, masyarakat dapat membuat konten edukasi mengenai pencegahan polusi, pengelolaan sampah, hingga informasi mengenai lokasi penyediaan air bersih bagi warga yang terdampak krisis air.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita menghadirkan konten-konten yang kreatif tentang penebangan atau pembakaran hutan dan lahan, agar masyarakat mengerti bagaimana kita harus merawat lingkungan,” katanya.

Khalil juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membagikan informasi terkait karhutla. Menurutnya, informasi yang belum terverifikasi dapat memperbesar keresahan dan menimbulkan dampak yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya prinsip tabayun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

“Kalau kita hanya membohongi satu orang, mungkin dampaknya kecil. Tetapi kalau di media sosial, informasi itu bisa tersebar kepada banyak orang sehingga kerusakannya juga lebih besar,” tuturnya.

Selain menangkal hoaks, masyarakat juga dinilai dapat menggunakan media sosial sebagai sarana advokasi yang kritis namun tetap santun. Advokasi tersebut dapat dilakukan dengan menyuarakan pentingnya transparansi, mendorong penegakan hukum, serta meminta pemerintah dan pemangku kepentingan meningkatkan perhatian terhadap persoalan lingkungan. Khalil menilai, karhutla dan kerusakan lingkungan tidak semata-mata dapat dipandang sebagai fenomena alam akibat musim kemarau. Ia mengingatkan adanya faktor aktivitas manusia, termasuk pembakaran dan eksploitasi alam yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

“Jangan sampai kita menormalisasi kebakaran hutan dan lahan hanya sebagai akibat kemarau panjang. Ada juga tindakan manusia yang mengeksploitasi alam tanpa mengindahkan daya dukung lingkungan,” jelasnya.

Dalam perspektif Islam, Khalil menyebut menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Ia mengutip pesan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang melarang pasukan dalam peperangan menebang pohon yang berbuah, membakar kebun atau hutan, serta merusak lingkungan tanpa alasan yang dibenarkan. Karena itu, ia menilai tindakan membakar hutan atau lahan secara sembarangan yang kemudian berdampak kepada masyarakat dapat dikategorikan sebagai bentuk kezaliman karena menimbulkan kerugian bagi orang lain.

“Ketika pembakaran itu memberikan efek buruk kepada masyarakat, tentu ini merupakan bentuk kezaliman yang nyata karena telah memberikan dampak buruk kepada orang lain,” katanya.

Khalil juga mengajak masyarakat untuk melakukan langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membakar sampah, memilah sampah, mengurangi sumber polusi, serta ikut menyebarkan informasi yang membantu masyarakat terdampak kabut asap dan krisis air. Ia berharap generasi muda dapat menjadi pengguna media digital yang tidak hanya aktif, tetapi juga bertanggung jawab dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

“Bumi tempat kita berpijak ini bukanlah warisan dari nenek moyang kita, melainkan titipan dari Allah untuk anak cucu kita,” ujarnya.

Menurutnya, ruang digital dapat dijadikan sebagai “benteng pertahanan ekologis” dengan menyebarkan data dan edukasi lingkungan, menolak narasi yang membenarkan eksploitasi alam, serta menggerakkan kepedulian sosial. Khalil berharap kepedulian terhadap karhutla, kabut asap, dan krisis air tidak berhenti pada kesadaran pribadi, tetapi berkembang menjadi kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat dari dampak kerusakan ekologis.

“Kita jadikan media sosial sebagai benteng pertahanan ekologis. Kesalehan digital diwujudkan melalui jari-jari kita: menolak manipulasi narasi yang membenarkan eksploitasi alam, menyebarkan edukasi lingkungan, dan menggerakkan kepedulian sosial,” pungkasnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....