Kasus ISPA dan Pneumonia Berpotensi Meningkat di tengah Kabut Asap
- 14 Sep 2026 17:59 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Kasus ISPA dan Pneumonia di Kota Pontianak
- Update kasus ISPA dan Pneumonia
- dampak kabut asap
RRI.CO.ID, Pontianak - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan Pneumonia pada September 2026.
Kepala Seksi Layanan Medik RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Pontianak, dr. Josepb, mengatakan, sepanjang Agustus tercatat adanya 48 kasus ISPA. Sementara hingga 11 September 2026, jumlah kasus ISPA telah mencapai 39 kasus.
Menurutnya, dengan masih berlangsungnya bulan September, jumlah tersebut berpotensi terus meningkat.
“Untuk ISPA di bulan Agustus selama satu bulan ada 48 kasus, sedangkan September baru sampai tanggal 11 sudah ada 39 kasus. Dengan sisa waktu ini sangat besar kemungkinan ada peningkatan,” ujar dr. Joseph, saat ditemui di RSUD SSMA Pontianak, Senin, 14 September 2026.
Peningkatan juga terjadi pada kasus pneumonia. Pada Agustus tercatat 32 kasus, sedangkan hingga 11 September jumlahnya sudah mencapai 22 kasus.
Kasi Layanan Medik RSUD SSMA itu menjelaskan, kelompok usia yang paling banyak mengalami pneumonia pada September adalah bayi berusia di bawah satu tahun, disusul anak usia satu hingga lima tahun. Sementara untuk kasus ISPA, kelompok usia 19 hingga 59 tahun menjadi yang paling banyak terdampak.
dr. Josepb menyebut, anak-anak lebih rentan mengalami pneumonia karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang secara sempurna. “Anak-anak memang lebih rentan mengalami Pneumonia, dedangkan ISPA lebih ke usia produktif, imbuh dr. Josepb.
Mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien, pihak rumah sakit telah memastikan ketersediaan oksigen dan obat-obatan, khususnya yang berkaitan dengan asma dan pneumonia. Rumah sakit juga terus memantau kapasitas tempat tidur untuk menyesuaikan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien.
Di tengah kondisi kabut asap, masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat harus bepergian.
dr. Josepb menyarankan masyarakat menutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya udara kotor. Jika memungkinkan, penggunaan air purifier juga dapat membantu memperbaiki kualitas udara di dalam ruangan.
Untuk masker, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan masker bedah secara berulang dalam waktu berhari-hari. Masker tersebut disarankan diganti maksimal setelah digunakan selama delapan jam.
“Secara medis kita tetap sarankan menggunakan masker. Lebih baik menggunakan masker daripada tidak, kemudian kurangi aktivitas di luar rumah,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....