Serdik Sespimmen dan Polres Kubu Raya Perkuat Cegah Karhutla
- 14 Sep 2026 14:23 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Memasuki musim kemarau ekstrem, pencegahan karhutla diperkuat melalui patroli bersama, edukasi warga, dan pemantauan titik panas.
Sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan bersama Serdik Sespimmen Angkatan ke-67 dan Polres Kubu Raya yang terdiri dari Risqi Akbar, Ferdinan, Lutfi Olot Gigantara dan Robby di RRI Pontianak, Senin, 14 September 2026.
Kegiatan tersebut membahas langkah pencegahan sekaligus penanganan cepat karhutla yang berpotensi meningkat akibat kondisi cuaca ekstrem.
Risqi Akbar mengatakan karhutla merupakan fenomena yang hampir setiap tahun terjadi dan memberikan dampak besar terhadap lingkungan maupun masyarakat. Kondisi tersebut semakin perlu diantisipasi karena adanya prediksi iklim ekstrem dalam beberapa waktu ke depan.
“Karhutla ini memang kejadian tahunan, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan kondisi iklim yang ekstrem, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan sejak awal,” ujar Risqi.
Menurutnya, faktor manusia masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya karhutla. Pembukaan lahan dengan cara dibakar, pembakaran sampah, maupun kelalaian membuang puntung rokok dapat memicu munculnya api di tengah kondisi lahan yang kering.

Sementara itu, Ferdinan menekankan pentingnya patroli secara rutin dan terpadu untuk mencegah munculnya titik api. Patroli tidak hanya dilakukan oleh aparat, tetapi perlu melibatkan seluruh pemangku kepentingan serta masyarakat peduli api.
“Patroli bersama harus terus diaktifkan. Kepolisian, stakeholder dan masyarakat peduli api harus bergerak bersama untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin,” kata Ferdinan.
Ia menambahkan, kesiapan sumber air juga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Pembuatan embung dan tempat penampungan air dapat dilakukan ketika musim penghujan sebagai persiapan menghadapi musim kemarau.
Namun, Lutfi Olot Gigantara menyebut persoalan di lapangan saat ini bukan semata-mata jumlah embung yang tersedia, melainkan memastikan air tetap ada ketika kemarau berlangsung ekstrem.
“Kendalanya bukan hanya bagaimana memperbanyak embung, tetapi bagaimana airnya tetap tersedia ketika kemarau ekstrem. Ini yang harus kita persiapkan sejak musim penghujan,” ungkap Lutfi Olot Gigantara.
Di sisi lain, Robby menjelaskan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu upaya mempercepat penanganan karhutla. Salah satunya melalui aplikasi Lancang Kuning yang terintegrasi dengan satelit untuk mendeteksi titik panas secara waktu nyata.
“Lancang Kuning membantu kita mendeteksi titik panas berdasarkan koordinat. Informasinya kemudian diteruskan kepada personel terdekat untuk dilakukan pengecekan di lapangan,” jelas Robby.
Menurut Robby, setiap titik panas yang terdeteksi tidak langsung disimpulkan sebagai karhutla. Petugas tetap melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah titik tersebut merupakan kebakaran atau hanya pantulan panas dari objek tertentu, seperti atap seng rumah warga.
Setelah titik api dipastikan, personel terdekat seperti Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Manggala Agni dapat segera melakukan pemadaman awal. Penanganan kemudian dikoordinasikan dengan Polsek maupun Polres agar api tidak berkembang dan meluas.
Upaya tersebut semakin penting mengingat prediksi kondisi kering dapat berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Masyarakat pun terus diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Kolaborasi antara aparat, pemerintah, masyarakat peduli api, serta pemanfaatan teknologi diharapkan mampu memperkuat deteksi dini. Dengan respons cepat sejak api masih kecil, risiko meluasnya karhutla dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....