BPBD Kalbar Catat 1.830 Titik Panas, 98 Berpotensi Jadi Api
- 14 Sep 2026 11:06 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Pantauan titik panas di wilayah Kalbar
- Potensi titik api
- BPBD Kalbar
RRI.CO.ID, Pontianak - Sebanyak 1.830 titik panas terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan Barat berdasarkan data terbaru hingga pukul 23.00 WIB.
Ketua Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, menyebut dari jumlah tersebut, 98 titik di antaranya terindikasi berpotensi menjadi titik api. Titik panas tersebut tersebar di berbagai daerah, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Kubu Raya dan Ketapang.
"Kalau lihat sebaran titik panas per hari ini yang terupdate pukul 23.00 malam tadi, itu di Kalbar ini ada 1830 sebaran titik panas. Jadi 1830 titik, yang kita curigai sebagai api itu adalah ada 98 titik, lebih banyak di Kubu raya, di Ketapang itu ada 63 titik, dan di Kubu raya, di Kayong Utara ada 30 titik, dan di Kuburaya ada 5 titik, sedangkan yang lain masih dalam posisi 0," ungkap Daniel saat diwawancara via seluler, Minggu 13 September 2026.
Daniel menjelaskan, data tersebut tidak serta-merta menunjukkan wilayah lain bebas dari kebakaran. Sebab, pemantauan menggunakan satelit juga dipengaruhi oleh kondisi asap yang pekat sehingga dapat menghambat pendeteksian titik panas.
"Tetapi ini tidak berarti bahwa di wilayah lain tidak terjadi kebakaran, karena memang yang menjadi kendala juga oleh satelit dalam memantau ini, ketebalan asap ini, kepekatan asap ini juga mempengaruhi satelit untuk melihat sebaran titik panas," ujarnya.
BPBD Kalbar dalam penanganan di lapangan, saat ini mengoptimalkan Satgas Darat. Sementara operasi udara seperti water bombing dan patroli belum dapat dilakukan karena kondisi jarak pandang atau feasibility yang rendah akibat pekatnya asap.
"Untuk sementara ini Satgas Udara seperti waterbombing, patroli, belum dapat kita lakukan karena pekatnya asap di wilayah Kalimantan Barat ini, sehingga menimbulkan visibility yang sangat rendah, sehingga tidak dapat melakukan penerbangan. Makanya yang kita optimalkan sekarang adalah Satgas Darat," jelasnya.
Selain kondisi asap, keterbatasan sumber air juga menjadi kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
"Kendala sekarang yang dialami, kendala secara alami yang kita alami saat ini misalnya, visibility rendah karena pekatnya asap, sehingga Satgas Udara tidak bisa melakukan tugasnya. Kemudian sumber air terbatas, bahkan tidak ada di berbagai tempat," jelas Daniel.
Menurutnya, operasi modifikasi cuaca atau OMC juga terus didorong untuk dilakukan di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan. Namun, pelaksanaan penerbangan masih bergantung pada kondisi visibility.
"Yang pertama kita mendorong, satu-satunya adalah bisa dilaksanakannya OMC, Operasi Modifikasi Cuaca di beberapa wilayah kabupaten yang berpotensi awannya di semai supaya bisa turun hujan dengan baik," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....