Krisis Distribusi Air Minum Resahkan Masyarakat, Butuh Langkah Tegas dan Solutif

  • 13 Sep 2026 15:41 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ketua Gerakan Mental Sehat Bahagia (GemasBah), Muhammad Darwin menyoroti krisis air bersih yang terjadi hampir di semua daerah di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) disaat bencana kekeringan dan kabut asap. Bahkan saat ini berbagai pihak telah mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki yang bersumber dari pegunungan di Anjongan, Kabupaten Mempawah.//

"Saat ini juga kita berapa banyak depot air minum sudah mulai mengalami kesulitan untuk mengakses air minum yang sebelumnya mendapatkan pasokan dari Air pegunungan Anjongan. Kalau kita lihat sekarang ini, mobil air dan Armoured Water Cannon (AWC) milik Brimob Polda Kalbar turut berkeliling menyalurkan air bersih yang siap diolah untuk layak konsumsi.

Namun, kekeringan sumber air ini melanda hampir secara menyeluruh di Kota Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, dan seluruh kabupaten di Kalimantan Barat," kata Darwin di Pontianak, Minggu, 13 September 2026 siang.

Pria yang juga merupakan Pengurus inti Ikatan Lintas SLTA Alumni (ILSA) 89 Pontianak ini menilai, minimnya sumber air pegunungan di Kota Pontianak dan Kubu Raya, tentunya situasi ini sangat rawan memicu konflik di tengah masyarakat. Meskipun armada Brimob dan berbagai mobil tangki telah dikerahkan, tingginya kebutuhan warga di berbagai titik menuntut adanya pengaturan distribusi secara adil dan cepat, khususnya ke setiap rumah tangga yang membutuhkan.

"Potensi konflik sangat mungkin muncul apabila terjadi ketidakadilan akses pembagian air layak konsumsi, misalnya karena adanya permainan harga oleh oknum atau perlakuan istimewa (privilese) terhadap warga yang lebih mampu secara ekonomi. Menyikapi fenomena krisis dan ancaman gesekan sosial ini, saya sebagai Ketua GemasBah menilai, Krisis air bersih ini bukan lagi sekadar masalah teknis atau logistik, tetapi sudah menyentuh ketahanan psikologis dan sosial masyarakat," ujar Darwin.

Menurut Darwis saat ini warga di Kalbar berada di bawah tekanan berlapis, paparan asap karhutla yang mengganggu kesehatan, sulitnya mendapat air minum layak karena air sungai mengasin, hingga menipisnya suplai dari Anjungan. Ketika masyarakat sulit mendapatkan kebutuhan mendasar seperti air minum, tingkat stres dan frustrasi akan melonjak drastis.

"Ditambah lagi dengan antrean panjang di depot-depot yang sering kosong, permainan harga oleh oknum armada tangki hingga dua kali lipat, serta kendala antrean solar untuk mobil pengangkut. Di beberapa titik, ketegangan antarwarga saat mengantre sudah mulai terjadi. Jika dibiarkan, ini adalah bom waktu yang berpotensi memicu konflik sosial, seperti penjarahan atau pencegatan mobil tangki di jalan," ucap Darwin.

Darwin menuturkan, dengan kondisi saat ini, GemasBah peduli karena kesehatan mental dan kedamaian masyarakat sedang terancam dan situasi ini saat yang sangat tepat bagi negara untuk hadir melayani dan melindungi warga, sebab air adalah hajat hidup orang banyak. Tanpa bermaksud mengajari, kami ingin menyampaikan beberapa opsi langkah taktis yang realistis dan dapat segera dieksekusi oleh Bapak Gubernur, Walikota, Bupati, Pangdam, Kapolda, serta seluruh pemangku kepentingan.

Adapun langkah taktis yang perlu dilakukan diantaranya sinergi komando lintas sektor dalam hal ini pemerintah daerah segera membentuk Satgas Darurat Air Bersih yang mengintegrasikan peran pemda, TNI, Polri, Dishub, hingga Pertamina untuk mengamankan rantai pasok dari hilir ke hulu. Kemudian intervensi prioritas distribusi dengan menekan para pengusaha atau entitas pemilik mobil tangki air agar mendahulukan distribusi ke depot-depot publik yang melayani warga luas, atau langsung ke pemukiman padat yang sudah sangat kritis.

"Selanjutnya mobilisasi armada cadangan untuk mengerahkan seluruh armada tangki milik pemerintah (Dinsos, PU), mobil Damkar (baik milik Pemda maupun swadaya masyarakat), serta kendaraan operasional pendukung milik TNI dan Polri untuk membantu suplai air mendesak dan jalur khusus solar di SPBU dengan menginstruksikan SPBU untuk memberikan kelonggaran antrean atau prioritas pengisian BBM jenis solar bagi armada tangki air bersih agar operasional distribusi tidak terhambat," tutur Darwin.

Darwin menambahkan pengawasan ketat di titik sumber air berssih di Anjongan juga sangat sangat penting untuk menempatkan personil gabungan (TNI, Polri, Dishub) di lokasi pengisian air di Anjongan, untuk mencegah praktik monopoli, penyerobotan antrean, maupun permainan harga oleh spekulan. Selain itu pengawasan Rantai Distribusi dengan memastikan distribusi tepat sasaran dan mencegah adanya penyimpangan alokasi ke pihak-pihak tertentu yang hanya mencari keuntungan di tengah krisis. Serta operasi air bersih Gratis: Menggelar pembagian air bersih gratis di titik-titik rawan kemiskinan guna menopang masyarakat berpenghasilan rendah yang daya belinya semakin tertekan.

"Kami optimistis, jika seluruh pemangku kepentingan bergerak padu dan cepat dengan mengedepankan empati, ketegangan di tengah masyarakat bisa segera terurai. Ketersediaan air minum yang adil dan merata akan mengembalikan rasa aman warga, menurunkan tingkat stres publik, dan menjaga Pontianak serta daerah sekitarnya tetap kondusif, sehat, dan bahagia," kata Darwin, optimis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....