Visibility di Bawah 600 Meter, Pemadaman Karhutla Melalui Udara Dibatalkan

  • 12 Sep 2026 22:48 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kabut asap tebal yang menyelimuti Provinsi Kalimantan Barat pada Sabtu, 12 September 2026 berdampak penurunan jarak pandang (visibility) di bawah 600 meter sehingga dibatalkannya operasi pemadaman karhutla melalui udara dengan menggunakan helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cassa NC 212 milik TNI AU dan pesawat Cessna Grand Caravan 208B milik BNPB.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar Daniel membenarkan adanya pembatalan penerbangan 9 helikopter water bombing yang akan melakukan pemadaman di sejumlah daerah di Kalbar dikarenakan faktor visibility, terdiri dari dua helikopter water bombing di Kabupaten Ketapang dan 7 helikopter di basecamp Pontianak.

"Minimal visibility bagi helikopter water bombing melakukan penerbangan itu 2.000 meter, namun visibility pada hari ini, hanya mencapai 200 hingga 500 meter, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan water bombing," kata Daniel usai mengikuti briefing malam bersama tim terpadu penanganan karhutla di ruang Pusdalops BPBD Kalbar. Sabtu, 12 September 2026 malam.

Daniel menuturkan, jika tidak terkendala faktor visibility, seharusnya hari ini, 9 helikopter water bombing itu melakukan pemadaman di sejumlah daerah yang sudah ditentukan saat briefing pagi diantaranya di Kabupaten Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Sintang dan beberapa daerah lain yang terindikasi adanya titik api berdasarkan data dari BMKG Supadio.

Lettu Pnb Andi Satria dari Skadron 4 Malang mengatakan, faktor visibility yang hanya mencapai 300 hingga 400 meter pada Sabtu pagi, membuat Lanud Supadio membatalkan penerbangan Pesawat Cassa NC 212 untuk melakukan OMC di Kabupaten Kayong Utara dan daerah-daerah yang memiliki potensi awan hujan.

"Tentunya adanya faktor visibility ini, kami lebih mengutamakan keselamatan karena visibility yang ideal untuk Pesawat Cassa NC 212 itu minimal 2.000 meter,, namun kondisi visibility pada Sabtu pagi berkisar 300 hingga 400 meter dan paling bagusnya 600 meter" ucap Andi.

Andi menjelaskan, selain hari Sabtu, pembatalan OMC juga pernah dilakukan saat visibility di Lanud Supadio sangat rendah, tentunya ini menjadi pertimbangan dibatalkannya OMC.

"Bagi kami, safety itu paling utama jika terjadi kondisi darurat saat melakukan penerbangan, terutama faktor visibility dan ini sudah menjadi SOP bagi Lanud Supadio saat melakukan operasi udara," ujar Andi.

Sementara itu mitra BNPB dalam pengoperasian Pesawat Cessna Grand Caravan 208B operator PT Maxson Sukses Pratama Elma Dwi Putri Sinaga menjelaskan, dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore tadi petugas yang melakukan OMC sudah standby di posko dengan melihat perkembangan awan hujan di Kabupaten Sambas, namun adanya kendala visibility dari pagi hingga sore tadi dibawah 600 meter, sehingga penerbangan untuk OMC dibatalkan.

"Batas minimum visibility untuk kami take off itu antara 800 hingga 1.000 meter. Namun kondisi visibility di Lanud Supadio dari pagi hingga sore hari ini di bawah 600 meter. Kondisi ini menjadi faktor utama bagi kami melakukan pembatalan penerbangan untuk OMC," kata Elma, menjelaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....