Pontianak dalam Pelukan Kabut Asap

  • 12 Sep 2026 16:13 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Pontianak diselimuti kabut asap tebal pada Sabtu, 12 September 2026, dengan langit berubah menjadi abu-abu pekat dan kusam.
  • Jembatan Kapuas terlihat samar-samar menembus jerebu, menciptakan pemandangan surealis yang mengganggu visibilitas kota.
  • Lampu jalan bertenaga surya yang biasanya menjadi simbol kemajuan energi bersih hari ini tampak lesu, tidak mampu menandingi kegelapan yang dibawa asap.

RRI.CO.ID, Pontianak - Matahari pagi itu Sabtu, 12 September 2026 seharusnya sudah menyingsing tinggi, menyinari denyut nadi Kota Pontianak. Namun, pemandangan dari atas Jembatan Kapuas menceritakan kisah yang berbeda. Langit bukan berwarna biru cerah, melainkan abu-abu pekat, kusam, dan menyesakkan. Sebuah tirai kabut asap tipis namun persisten membungkus segalanya, menyembunyikan cakrawala dan menyisakan hanya siluet-siluet kabur.

Suasana tenang, hampir surealis. Di kejauhan, struktur kokoh Jembatan Kapuas berdiri, tiang-tiang bajanya samar-samar terlihat menembus jerebu, seolah-olah menggapai sesuatu yang tak kasat mata. Lampu-lampu jalan bertenaga surya, yang biasanya menjadi simbol kemajuan kota menuju energi bersih, hari ini berdiri tegak namun lesu, tak mampu menandingi kegelapan yang dibawa oleh asap.

Di bawah, di atas aspal basah yang memantulkan cahaya redup, kehidupan tetap berjalan. Seorang pengendara sepeda motor, seorang pria dengan jaket merah muda dan ransel besar terikat di belakang, membelah kabut. Dia bergerak perlahan, matanya sipit menahan perih akibat asap, napasnya mungkin terengah-engah di balik masker kain yang dikenakannya. Di belakangnya, beberapa pengendara lain mengikuti, menciptakan jejak buram di tengah selimut asap yang tak kasat mata namun sangat terasa.

Pemandangan ini bukanlah fenomena alam biasa. Ini adalah pengingat visual yang menyedihkan tentang masalah tahunan yang terus menghantui Kalimantan Barat tentang kebakaran lahan dan hutan (Karhutla). Meskipun upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak, setiap musim kemarau, kabut asap kembali menyapa, membawa dampak buruk bagi kesehatan masyarakat, transportasi, dan perekonomian.

Udara pagi yang seharusnya menyegarkan, kini berbau hangus, sisa-sisa pembakaran yang dibawa angin dari jauh. Anak-anak yang seharusnya bermain di luar, hari ini mungkin terkurung di dalam rumah, sementara para lansia harus ekstra waspada terhadap masalah pernapasan. Kehidupan di Pontianak, setidaknya untuk sementara, terasa melambat, seolah-olah kota ini sedang menahan napas, menunggu hujan turun untuk membersihkan segalanya.

Foto ini bukanlah sekadar gambar pemandangan kota. Ini adalah kesaksian tentang perjuangan sehari-hari warga Pontianak melawan bencana ekologis. Di balik setiap pengendara yang melintas, ada kekhawatiran yang tersimpan, ada harapan yang terselip untuk masa depan yang lebih cerah, di mana langit di atas Jembatan Kapuas akan kembali biru sempurna, tanpa tirai kabut asap yang mencekik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....