UPTD Museum Sambas Cari Solusi Tingkatkan Kunjungan
- 03 Sep 2026 15:58 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- UPTD Museum Daerah Kabupaten Sambas menyelenggarakan seminar 'Kajian Pengunjung Museum Tahun 2026' pada Kamis, 3 September 2026 di Balairung Sari.
- Seminar bertujuan merumuskan solusi strategis untuk meningkatkan minat kunjungan masyarakat umum, mahasiswa, dan generasi muda ke museum.
- Penyelenggara acara Rahmat menekankan pentingnya keterlibatan aktif berbagai kalangan dalam pengembangan dan promosi museum daerah.
RRI.CO.ID, Sambas - UPTD Museum Daerah Kabupaten Sambas sukses menggelar seminar "Kajian Pengunjung Museum Tahun 2026" di Balairung Sari, Sambas pada Kamis, 3 September 2026.
Penyelenggara acara, Rahmat, menjelaskan bahwa agenda ini bertujuan utama untuk merumuskan solusi strategis agar masyarakat umum, mahasiswa, dan generasi muda tertarik mengunjungi serta terlibat aktif dengan museum.
"Melalui kajian ini, museum diharapkan tidak lagi dianggap sebagai tempat penyimpanan benda mati yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi ruang diskusi publik yang hidup dan mampu menjawab tantangan sosial kemasyarakatan saat ini," katanya.
Di luar pembahasan utama kajian, Pangeran Ratu Raden Muhammad Tarhan, turut memberikan tanggapan mengenai isu karhutla yang saat ini marak terjadi. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Melayu Sambas sejak dahulu memiliki kearifan lokal dalam pembukaan lahan, termasuk ketentuan dalam Qonun Sambas.
"Khususnya orang Melayu Sambas, sejak dahulu sudah menerapkan Qonun Sambas, termasuk tentang pembakaran hutan dan lahan. Pasal 22 menyebutkan bahwa membakar lahan orang lain tanpa sepengetahuan pemilik diwajibkan membayar ganti rugi. Nilai dari manuskrip kuno ini menjadi bahan evaluasi penting di tengah maraknya kasus karhutla sekarang," jelas Tarhan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sambas, Muriadi, menambahkan peran sejarah tradisi pertanian Sambas.
"Secara tradisional, masyarakat Sambas mempunyai dua model bertani, pertanian pasang surut dan pertanian berladang," ujar Muriadi.
Ia menyebut, kedua tradisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sambas, Sunandar, menjelaskan bahwa masyarakat dahulu melakukan pembukaan lahan secara berkelompok sehingga pengawasan api dapat dilakukan. Ia juga menyoroti perubahan kondisi lahan dan drainase yang turut memengaruhi risiko kebakaran.
Melalui kajian ini, diharapkan museum semakin dikenal sebagai ruang edukasi yang menarik, sekaligus menjadi tempat masyarakat mengenal sejarah dan kearifan lokal Sambas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....