Tungku Khatulistiwa Ajak Pemuda Pontianak Kenal Toleransi Inklusif di Ruang Rasa
- 20 Agt 2026 20:04 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak -– Kota Pontianak dikenal sebagai wilayah melting pot yang kaya akan keberagaman etnis seperti Melayu, Dayak, Tionghoa, serta berbagai latar belakang agama dan kepercayaan. Namun di tengah tingginya dinamika tersebut, generasi muda di Pontianak masih dihadapkan pada keterbatasan ruang perjumpaan yang organik, aman, dan inklusif. Minimnya wadah interaksi langsung ini rawan memunculkan prasangka, stigma sosial, hingga gesekan SARA di linimasa media sosial.
Menjawab kebutuhan tersebut, komunitas pemuda Tungku Khatulistiwa selaku inisiator program, dengan dukungan GerakDampak Academy (Indika Foundation), menggelar program "Ruang Rasa: Mengupas Nilai Lintas Iman di Balik Gawai". Acara ini dirancang khusus untuk mengenalkan ruang perjumpaan inklusif bagi anak muda, di mana dialog dapat mengalir secara hangat dan suasana yang santai dan cair tanpa terhalang sekat-sekat perbedaan. Kegiatan akan dilaksanakan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, berlokasi di Kampung Wisata Caping, Pontianak, mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.
Inisiator sekaligus Project Director Tungku Khatulistiwa, Apriansius, mengungkapkan bahwa program ini hadir agar anak muda Pontianak dapat saling mengenal dan berinteraksi secara utuh di ruang yang aman.
"Anak muda perlu tahu dan merasakan langsung bagaimana rasanya berada di dalam ruang perjumpaan yang inklusif. Melalui Ruang Rasa, kami selaku inisiator ingin meruntuhkan sekat-sekat latar belakang agar pemuda dari etnis Melayu, Dayak, Tionghoa, maupun berbagai agama bisa berdialog setara. Kita menyandingkan nilai kearifan lokal seperti tradisi Gawai dan akulturasi Tidayu dengan pemahaman Hak Kebebasan Berkeyakinan dan Beragama (KBB), sehingga lahir toleransi aktif dan etika digital yang kuat di kalangan pemuda," kata Apriansius.
Sebanyak 10 hingga 15 pemuda terpilih berusia 18–25 tahun dari beragam latar belakang akan terlibat langsung dalam dialog ini. Untuk memantik diskusi, hadir dua narasumber utama, yaitu Leonardus Gardiaz Vogatn, S.Sn (Pegiat Budaya & Seni Kalbar) yang membedah falsafah kebudayaan lokal, serta Nelly Yusnita, S.Hut., M.M. (Kepala Sekretariat Komnas HAM Provinsi Kalimantan Barat) yang mengulas jaminan Hak KBB dan HAM sebagai hak konstitusional serta etika berekspresi di ruang digital.
Selain paparan materi, suasana dialog tanpa sekat diperkuat melalui sesi kolaborasi inovasi tas ramah lingkungan motif Tidayu dari tim FLEXYBAG 2.0 Universitas Tanjungpura, Focus Group Discussion (FGD) kelompok inklusif, hingga pembuatan konten video narasi perdamaian bersama oleh para peserta.
Pendaftaran program ini dibuka hingga Kamis, 20 Agustus 2026, dan bersifat 100% gratis. Pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh mitra kolaborasi seperti Komnas HAM Kalbar, Pegiat Budaya Kalbar, Rumah Budaya Kampung Caping Pontianak, Kemah Generasi 2026/Genham, Weus Youth Community, FLEXYBAG 2.0 Untan, serta RRI Pro 2 Pontianak sebagai Official Media Partner.
Melalui sinergi ini, diharapkan lahir jejaring pemuda lintas iman yang tidak hanya mengenal konsep toleransi, tetapi juga aktif merawat ruang inklusif dan menyebarkan narasi damai di Kota Pontianak.
Baca juga: Voluntrip Ajak Anak Muda Belajar dari Cerita Lokal di Kubu Raya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....