Perkuat Petani Perempuan, Gemawan Dorong Kolaborasi Lintas Pihak di Melawi

  • 13 Agt 2026 14:53 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Melawi - Perkumpulan Gemawan mendorong penguatan peran petani perempuan melalui kolaborasi lintas pihak di Kabupaten Melawi. Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Multistakeholder bertajuk “Penguatan Petani Perempuan Melalui Kolaborasi Lintas Pihak di Kabupaten Melawi” di Ballroom Hotel Rajawali Nanga Pinoh, Kamis, 13 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat melalui pembangunan yang responsif gender dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Puluhan peserta dari berbagai unsur hadir dalam kegiatan ini, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), organisasi masyarakat sipil, kelompok perempuan petani dari sejumlah desa, komunitas orang muda, akademisi hingga media.

FGD juga menjadi bagian dari upaya Perkumpulan Gemawan dalam mendorong perubahan sistem (system change) melalui pendekatan 3R, yakni Rekognisi, Representasi, dan Redistribusi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat identitas perempuan petani agar semakin mandiri dan berdaya.

Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama bahwa penguatan petani perempuan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kepentingan bersama.

Perempuan petani tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat program, tetapi juga sebagai aktor ekonomi, produsen pangan, pengelola sumber daya lokal, sekaligus bagian penting dari pembangunan daerah.

FGD bertujuan mengidentifikasi tantangan sekaligus peluang yang dihadapi perempuan petani dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dewan Pengurus Perkumpulan Gemawan, Uray Endang Kusumajaya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk memperkuat posisi perempuan petani di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Menurutnya, perempuan petani memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus keberlanjutan sumber daya alam.

Namun, perempuan masih menghadapi berbagai hambatan, antara lain keterbatasan akses terhadap lahan, ruang pengambilan keputusan, serta kebijakan yang responsif gender.

Pada sesi pemaparan materi, Program Manager Perkumpulan Gemawan, Rahmawati, menyampaikan materi bertajuk “Penguatan Petani Perempuan Melalui Kolaborasi Lintas Pihak di Kabupaten Melawi”.

Rahmawati menjelaskan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam aktivitas pertanian, mulai dari produksi, pengolahan hasil pertanian hingga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, perempuan petani perlu mendapat dukungan melalui peningkatan kapasitas, akses terhadap teknologi, penguatan usaha ekonomi, serta keterlibatan aktif dalam proses pengambilan kebijakan di tingkat desa maupun daerah.

“Penguatan perempuan petani harus menjadi agenda bersama. Ketika perempuan memiliki akses dan kesempatan yang sama, maka ketahanan pangan, ekonomi keluarga, dan keberlanjutan lingkungan akan semakin kuat,” kata Rahmawati.

Ia menambahkan, hasil yang diharapkan dari FGD tidak berhenti pada kesepakatan normatif. Forum tersebut diharapkan menghasilkan rencana aksi kolaborasi yang konkret, lengkap dengan pembagian peran, bentuk dukungan, waktu pelaksanaan, serta indikator yang dapat dipantau bersama.

Mitra lokal Gemawan di Kabupaten Melawi Perkumpulan SUAR dan Benih. Ketua Suar, Sukartaji, mengatakan FGD diharapkan menjadi fondasi kolaborasi untuk mewujudkan petani perempuan yang kuat, khususnya di Kabupaten Melawi.

Petani perempuan yang kuat, menurutnya, ditandai dengan kepemimpinan yang semakin baik, usaha yang berkembang, penerapan praktik pertanian berkelanjutan, kemampuan memanfaatkan teknologi, serta kemampuan membangun jejaring dengan OPD.

Sukartaji menjelaskan, kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi petani perempuan sebagai aktor penting dalam pembangunan pertanian, pengembangan ekonomi lokal, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Sementara Ketua Benih, Kornelius mengatakan bukan hanya FGD kali ini, namun program kuat ini sebenarnya telah dilakukan dalam proses sekitar 2 bulan. Bahkan, dia mengaku telah menjalin komunikasi dengan Perempuan yang akan menjadi sasaran utama program.

“Kita sudah berkomunikasi dengan kelompok Perempuan, setidaknya ada 7 desa yang desa yang telah kita kunjungi. Desa-desa ini sebenarnya telah kita dampingin sebelumnya,” kata Kornelius.

Diskusi berlangsung interaktif. Peserta menyampaikan berbagai masukan terkait persoalan yang masih dihadapi perempuan petani, seperti keterbatasan akses pasar, modal usaha, minimnya perlindungan lahan, dampak perubahan iklim, kebutuhan terhadap kebijakan yang lebih inklusif, serta observasi lahan.

Selain Perkumpulan Gemawan, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi, di antaranya Bapperida, Balai Penyuluh Pertanian, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....