Jerebu Mulai Ganggu Kesehatan Siswa, SMAN 8 Pontianak Kurangi Aktivitas Luar

  • 28 Jul 2026 14:35 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Jerebu
  • dampak kabut asap
  • kualitas udara

RRI.CO.ID, Pontianak – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap semakin dirasakan di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan di Kalimantan Barat. Di SMAN 8 Pontianak, jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan dilaporkan meningkat dalam sepekan terakhir, diduga dipicu oleh menurunnya kualitas udara akibat jerebu.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 8 Pontianak, Syaiful Efendi, mengungkapkan kondisi tersebut mulai dirasakan setelah Kota Pontianak tidak lagi diguyur hujan selama sekitar satu pekan, sehingga kabut asap semakin pekat.

"Kalau menurut pantauan kita, mungkin seminggu terakhir ini sudah mulai terasa. Sebelumnya Pontianak sempat diguyur hujan sehingga dampaknya belum begitu dirasakan. Nah sekarang jerebu sudah mulai terasa sekali. Di rumah saya sendiri saja debunya luar biasa banyak, setiap pagi dan sore terlihat jelas," ujarnya di Pontianak, Senin 27 Juli 2026.

Menurut Syaiful, secara umum aktivitas belajar mengajar masih berjalan normal. Namun, dampak terhadap kesehatan siswa mulai terlihat dari meningkatnya jumlah siswa yang tidak masuk sekolah karena sakit.

"Kalau secara umum mungkin belum terlalu berdampak. Tapi memang dampaknya sudah mulai ada. Biasanya tingkat kehadiran siswa antara 99 sampai 100 persen. Hari ini saja ada satu kelas yang sampai enam orang tidak masuk dan semuanya berketerangan sakit. Saya yakin ini ada dampaknya dari kondisi cuaca di Pontianak," ungkapnya.

Syaiful mengungkapkan sebagian siswa yang tidak hadir mengeluhkan gangguan pernapasan yang mengarah pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). "Sudah ada siswa yang mengeluhkan sakit akibat jerebu. Mereka tidak hadir karena sakit, salah satunya dengan gejala ISPA," katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah mulai mengurangi intensitas kegiatan di luar ruangan serta mengimbau siswa membatasi aktivitas di luar sekolah.

"Untuk upaya langsung memang sementara ini kami lebih banyak memberikan penghimbauan. Aktivitas di luar ruangan mulai kami kurangi dan lebih banyak dilakukan di dalam kelas. Kalau ada siswa yang mengalami sesak napas, kami sudah menyiapkan ruang UKS lengkap dengan oksigen," jelasnya.

Syaiful menambahkan, sekolah juga memiliki tenaga kesehatan dan telah bekerja sama dengan puskesmas terdekat apabila terdapat siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Kalau tidak bisa kami tangani di sekolah, kami langsung rujuk ke puskesmas yang lokasinya tepat di depan sekolah. Kami memang sudah bekerja sama untuk penanganan siswa yang terdampak," katanya.

Meski kegiatan luar ruangan seperti upacara masih dilaksanakan, pihak sekolah terus memantau perkembangan kualitas udara. Apabila kondisi semakin memburuk, sejumlah kegiatan akan disesuaikan. "Kalau kondisi semakin parah, ekstrakurikuler bisa dihentikan, upacara ditiadakan, pembinaan dilakukan di kelas, bahkan pelajaran olahraga dialihkan menjadi teori," ujarnya.

Terkait kemungkinan penyesuaian jam belajar atau pembelajaran dari rumah, Syaiful menegaskan sekolah masih menunggu arahan dari pemerintah.

"Kalau untuk itu kami harus menunggu instruksi dari pimpinan. Sekolah tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kalau memang nanti ada arahan untuk belajar dari rumah, tentu akan kami patuhi," tegasnya.

Syaiful juga berharap orang tua turut berperan dalam melindungi anak dari dampak jerebu dengan membatasi aktivitas di luar rumah dan memastikan penggunaan masker.

"Kalau di sekolah tentu menjadi tanggung jawab kami, tetapi di rumah peran orang tua sangat besar. Kami berharap anak-anak menggunakan masker dan lebih banyak berada di rumah saat kondisi seperti ini," ungkapnya.

Syaiful berharap pemerintah dapat mempercepat penanganan karhutla agar dampaknya tidak semakin meluas dan mengganggu kesehatan masyarakat.

"Kita berharap ada upaya yang lebih maksimal agar kebakaran hutan tidak terus terjadi. Kalau memang ada titik api, segera dipadamkan supaya tidak berdampak luas bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....