Sawit Kalbar Siap Hadapi B50, Produktivitas Jadi Sorotan

  • 25 Jun 2026 19:22 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Industri kelapa sawit Kalimantan Barat menghadapi peluang sekaligus tantangan baru. Tantangan ini seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional melalui program biodiesel B50 yang akan mulai diterapkan pada Juli 2026.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Barat yang digelar di Pontianak pada Kamis, 25 Juni 2026. Forum ini mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan sektor perkebunan.

Ketua GAPKI Kalimantan Barat menyebut industri kelapa sawit masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah sekaligus sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.

Menurutnya, program mandatori biodiesel yang terus diperkuat pemerintah membuktikan bahwa sawit memiliki peran penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

"Sawit tidak hanya berperan sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi daerah, penyedia lapangan kerja, dan sumber penghidupan masyarakat di berbagai wilayah pedesaan," ujarnya.

Kalimantan Barat sendiri merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan luas areal lebih dari 2,9 juta hektare. Produksi minyak sawit mentah atau CPO dari daerah ini memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian regional maupun nasional.

Namun demikian, industri sawit masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas tanpa perluasan lahan, percepatan hilirisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pemenuhan standar keberlanjutan yang semakin ketat di pasar global.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan Indonesia masih memiliki peluang besar mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri minyak sawit dunia meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, dan tekanan perdagangan internasional.

"Implementasi biodiesel B50 akan meningkatkan kebutuhan minyak sawit dalam negeri. Ini menjadi peluang bagi industri, tetapi harus diimbangi dengan kesiapan produksi, pasokan bahan baku, tata kelola yang baik, dan komitmen terhadap keberlanjutan," kata Eddy.

Selain membahas peluang energi, Rakercab juga menyoroti kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026. GAPKI mengingatkan seluruh perusahaan anggota untuk memperkuat sistem pencegahan, pemantauan, dan koordinasi dengan pemerintah agar industri sawit tetap tumbuh secara produktif, berkelanjutan, dan mampu mendukung ketahanan energi nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....