Hazilina Jadi Motor Perubahan, Cetak Fasilitator Sekolah Aman di Kalbar

  • 14 Jun 2026 16:11 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Ketapang - Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak di Kalimantan Barat (Kalbar) semakin diperkuat melalui peran strategis para fasilitator daerah yang kini ditempa menjadi agen perubahan.

‎‎Sosok Hazilina, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak yang juga menjabat sebagai Ketua PPKPT (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi), Ketua MHH (Majelis Hukum dan HAM), serta Ketua Tim Inklusi PWA (Pimpinan Wilayah Aisyiyah) Kalbar, dipercaya sebagai Pelatih Utama Daerah dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator Daerah Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang digelar di Ketapang, 8–12 Juni 2026.

Dalam pelatihan ini, Hazilina tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong lahirnya fasilitator yang mampu menggerakkan perubahan nyata di lingkungan pendidikan masing-masing.

‎"Seluruh peserta memiliki pengalaman berharga yang dapat menjadi sumber pembelajaran bersama. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk saling berbagi, berdiskusi, dan memperkuat pemahaman tentang perlindungan anak di lingkungan sekolah," kata Hazilina.

‎‎Menurutnya, keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan utama dalam proses pembelajaran. Pengalaman dan praktik baik yang dibawa dari berbagai daerah dapat memperkaya diskusi sekaligus memperluas perspektif dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

‎‎Hazilina juga menegaskan bahwa pelatihan tersebut mengedepankan prinsip kesetaraan dalam belajar. Tidak ada pihak yang dianggap paling benar, melainkan seluruh peserta hadir sebagai pembelajar yang saling melengkapi dan menguatkan.

‎‎"Semua peserta datang untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan memperkuat kapasitas dalam upaya perlindungan anak. Semangat kolaborasi dan keterbukaan menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik," ujarnya.

‎‎Selama pelatihan berlangsung, peserta bersama-sama menyusun kesepakatan kelas yang menjadi pedoman dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Kesepakatan tersebut mencakup nilai-nilai saling menghormati, partisipasi aktif, menjaga kerahasiaan informasi yang sensitif, serta menciptakan suasana belajar yang kondusif dan inklusif.

‎‎Melalui kegiatan ini diharapkan lahir fasilitator daerah yang semakin kompeten, adaptif, dan siap menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing. Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah strategis dalam memperluas implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN), sehingga upaya perlindungan anak dan penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik dapat terlaksana secara berkelanjutan di berbagai satuan pendidikan.

Baca juga: Petinju Muda Asal Kubu Raya Mantapkan Persiapan di Pelatnas menuju Kejuaraan Asia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....