Kolaborasi BBPOM Pontianak dan BKKBN Kalbar Tingkatkan Literasi Bahaya OOT bagi R
- 21 Mei 2026 16:48 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Pontianak menggelar kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Pencegahan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT) pada Rabu, 20 Mei 2026, di kantor BBPOM di Pontianak. Kegiatan ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Kalimantan Barat dan diikuti oleh anggota SAKA POM serta komunitas sekolah dari SMA/SMK di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan upaya pencegahan penyalahgunaan OOT di kalangan remaja melalui edukasi, penguatan literasi, serta peningkatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan obat.
Kepala BBPOM di Pontianak Hariani menyampaikan Badan POM memiliki peran dalam pengawasan obat dan makanan serta upaya pencegahan penyalahgunaan OOT. Dalam paparannya, Hariani menjelaskan tujuh jenis OOT yang kerap disalahgunakan, yaitu tramadol, triheksifenidil, amitriptilin, klorpromazin, haloperidol, dekstrometorfan, dan ketamin.
“Penyalahgunaan OOT dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, mulai dari halusinasi, gangguan mental, ketergantungan, hingga risiko kerusakan organ permanen dan kematian akibat overdosis,” tegas Hariani.
Selain itu, lanjut Hariani, peserta juga diberikan edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan, seperti memilih lingkungan pergaulan yang positif, mengelola stres dengan baik, meningkatkan kesadaran terhadap bahaya penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga kesehatan, serta berani mengatakan tidak terhadap ajakan penyalahgunaan obat.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/ BKKBN Provinsi Kalimantan Barat Eriza Wahyuhandini menyampaikan, materi mengenai pentingnya peran keluarga dan program pembinaan remaja dalam mencegah penyalahgunaan OOT.
“Penyalahgunaan obat-obatan tertentu menjadi ancaman serius bagi ketahanan keluarga dan masa depan generasi muda sehingga diperlukan sinergi lintas sektor antara BKKBN dan BPOM,: jelas Eriza.
Dalam ini lanjut Eriza, saya mengenalkan berbagai program yang dapat diikuti remaja maupun orang tua, seperti Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wadah edukasi bagi orang tua dalam membangun komunikasi yang baik dengan anak, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) sebagai sarana edukasi dan konseling sebaya, serta program Generasi Berencana (GenRe) yang mendorong remaja menjalani pola hidup sehat, produktif, dan bebas dari perilaku berisiko.
“Peserta juga diperkenalkan dengan delapan fungsi keluarga, pentingnya parenting remaja, pengawasan sehat dalam keluarga, hingga layanan konsultasi keluarga melalui Satyagatra atau Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) untuk membantu keluarga menghadapi berbagai permasalahan remaja secara persuasif dan edukatif,” tutup Eriza.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber. Antusiasme peserta menjadi nilai positif dalam upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap bahaya penyalahgunaan OOT. Melalui kegiatan ini, diharapkan upaya pencegahan penyalahgunaan OOT dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta, sekaligus memperkuat peran keluarga dan remaja dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan obat-obatan tertentu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....