Film "Semua Akan Baik-Baik Saja" Jadi Media Edukasi Inklusi bagi Komunitas Tuli

  • 15 Mei 2026 15:29 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kegiatan nonton bareng atau nobar film “Semua Akan Baik-Baik Saja” yang digelar Komunitas Maktab Tuli As-Sami di salah satu bioskop di Pontianak tak sekadar menjadi hiburan. Di balik layar lebar itu, muncul pesan tentang pentingnya ruang inklusif bagi penyandang disabilitas.

Aktivis disabilitas sekaligus Pendiri Maktab Tuli As-Sami, M. Fakhrul Maulana mengatakan, kegiatan tersebut sengaja mengundang berbagai komunitas lintas latar belakang agar masyarakat non-disabilitas semakin memahami kehidupan penyandang disabilitas dari sudut pandang keluarga dan lingkungan sosial.

“Film ini tentang keluarga dan ada tokoh disabilitas juga. Saya ingin teman-teman non-disabilitas semakin aware dengan kehidupan teman-teman disabilitas, terutama bagaimana keluarga punya peran besar dalam mendukung mereka,” kata Fakhrul diwawancarai usai menonton film pada Rabu, 13 Mei 2026.

Menurut Fakhrul, karakter disabilitas dalam film tersebut dinilai tampil natural dan mampu membangun empati penonton terhadap perjuangan penyandang disabilitas dalam menghadapi persoalan hidup dan keluarga.

“Orang jadi bisa merasakan bagaimana perjuangan teman-teman disabilitas untuk survive. Ada rasa empati yang muncul setelah menonton film ini,” katanya.

Nobar perdana yang diikuti sekitar 75 penonton itu juga dihadiri lintas komunitas, mulai dari mahasiswa psikologi, pegiat lintas budaya, komunitas lingkungan, wartawan hingga orang tua anak disabilitas. Fakhrul mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi bersama tentang inklusi sosial.

Namun di sisi lain, Fakhrul juga menyayangkan minimnya akses ramah disabilitas Tuli di bioskop. Film yang diputar disebut tidak menyediakan subtitle yang memadai sehingga membuat sebagian penonton Tuli kesulitan memahami dialog dalam film.

“Kami agak kecewa karena ternyata film ini tidak ramah disabilitas Tuli, tidak ada subtitle. Teman-teman Tuli sempat bingung mengikuti alur ceritanya,” ucapnya.

Meski demikian, suasana emosional tetap terasa di dalam studio. Beberapa penonton Tuli bahkan terlihat menangis saat film berlangsung.

“Walaupun mereka mungkin tidak mendengar sepenuhnya ya, tapi ternyata mereka tetap bisa merasakan esensi emosinya. Ada teman-teman Tuli yang sedih dan menangis juga,” kata Fakhrul.

Baca juga: Cegah Korupsi lewat Film Pendek, KPK Selenggarakan ACFFEST Movie Day 2026

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....