Workshop “Beri Ruang untuk Setara” Dorong Literasi Kesehatan Reproduksi
- 09 Mar 2026 10:02 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Generasi Setara, Wistara, bersama Yayasan Suara Asa Khatulistiwa (SAKA) dan sejumlah mitra menggelar workshop bertajuk “Beri Ruang untuk Setara: Membongkar Tabu Menstruasi”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 8 Maret 2026 di Sekolah Cerlang, Pontianak.
Salah satu pemateri sekaligus ketua panitia, Ovy Novakarti, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan reproduksi, khususnya terkait menstruasi yang masih sering dianggap sebagai hal tabu.
Menurutnya, di Kalimantan Barat edukasi mengenai menstruasi masih sangat diperlukan karena banyak orang yang merasa malu membicarakannya, bahkan di lingkungan keluarga atau teman dekat.
“Selama ini menstruasi sering dianggap sesuatu yang memalukan dan tidak perlu dibicarakan. Melalui workshop ini kami berharap perempuan maupun laki-laki bisa lebih terbuka untuk berdiskusi dan memahami isu tersebut,” ujarnya.
Ia menilai pemahaman tentang menstruasi tidak hanya penting bagi perempuan, tetapi juga bagi laki-laki agar tumbuh empati dan pemahaman terhadap kondisi biologis yang dialami perempuan.
Sementara itu, Dosen Sosiologi Desca Thea Purnama menjelaskan bahwa stigma menstruasi sebagai sesuatu yang tabu tidak terlepas dari konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, berbagai mitos masih sering dikaitkan dengan menstruasi, seperti anggapan bahwa perempuan yang sedang haid itu “kotor”, tidak boleh berolahraga, dan berbagai larangan lain yang tidak selalu didukung oleh fakta ilmiah.
“Hal ini terjadi karena kurangnya ruang atau wadah untuk mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan reproduksi. Akibatnya, banyak orang menganggap topik ini tidak penting untuk dipelajari,” ujarnya.
Padahal, lanjut Desca, kesehatan reproduksi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dipahami oleh semua orang, baik perempuan maupun laki-laki.
Ia juga menilai tantangan terbesar dalam mengedukasi masyarakat adalah budaya dan perspektif yang masih menganggap pembahasan soal reproduksi sebagai sesuatu yang tidak penting. Karena itu, Desca mengajak masyarakat untuk mulai melihat literasi kesehatan reproduksi sebagai pengetahuan penting yang tidak perlu dianggap tabu.
“Belajar tentang kesehatan reproduksi bukan sesuatu yang memalukan. Semua pihak memiliki peran, mulai dari pemerintah, keluarga, hingga teman sebaya, untuk menyebarkan informasi yang benar,” katanya.
Salah satu peserta, Naila Fathia Salsabila, mengaku kegiatan tersebut sangat menarik karena memberikan pemahaman baru terkait menstruasi yang selama ini sering dianggap sebagai topik sensitif. Menurutnya, melalui workshop ini peserta belajar bahwa menstruasi bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan.
“Kegiatan hari ini menarik sekali karena kami belajar bahwa menstruasi itu sebenarnya tidak tabu. Baik perempuan maupun laki-laki bisa mengenal dan memahami tentang menstruasi itu sendiri,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, para penyelenggara berharap stigma dan tabu mengenai menstruasi dapat berkurang, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih inklusif antara perempuan dan laki-laki dalam memahami isu kesehatan reproduksi.
Workshop ini juga diharapkan dapat mendorong kesadaran bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya di masyarakat.
Baca juga: Hari Perempuan Sedunia: Sejarah, Makna, dan Perjuangan Kesetaraan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....