Inisiator MABT Pontianak Terima Penghargaan Imlek 2577

  • 03 Mar 2026 18:51 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - MABT Kota Pontianak memberikan penghargaan kepada Andreas Acui Simanjaya pada perayaan Imlek Tahun Kuda Api 2577. Penghargaan tersebut diberikan atas inisiatif dan upayanya menggagas pendirian Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak pada tahun 2005. Penyerahan piagam dilakukan di Kantor MABT Kota Pontianak, Senin, 2 Maret 2026, oleh Ketua MABT Kota Pontianak Hendry Pangestu Lim dan disaksikan jajaran pengurus.

Momen itu menjadi kejutan bagi Andreas Acui Simanjaya yang selama ini dikenal sebagai salah satu penggagas awal terbentuknya wadah adat budaya Tionghoa di ibu kota Kalimantan Barat tersebut.

“Saya berterima kasih atas penghargaan ini. Proses mendirikan MABT tidak mudah, kami melalui puluhan kali rapat di berbagai tempat dengan dukungan banyak pihak,” ujar Andreas.

Ia menjelaskan, sebelum resmi berdiri secara hukum melalui notaris, dibentuk terlebih dahulu tim formatur bersama sejumlah tokoh masyarakat lintas latar belakang. Nama-nama seperti Santyoso, Surjanto, Adhie Rumbee, Su Mian, dan Budi Santoso disebutnya turut berperan dalam proses awal pembentukan organisasi tersebut.

Menurut Andreas, ide mendirikan MABT awalnya tercetus dari seorang rekannya bernama Herman, Tionghoa mualaf yang juga teman satu angkatan di SMA Santu Petrus tahun 1986.

“Dari diskusi-diskusi sederhana itulah muncul kesadaran bahwa kalangan Tionghoa perlu memiliki majelis adat budaya sebagai sarana pelestarian tradisi sekaligus jembatan komunikasi dengan suku lain di Kalimantan Barat,” tuturnya.

Ia menilai keberadaan MABT menjadi penting, terutama dalam membangun dialog setara dengan entitas adat dan budaya lain di daerah. Tokoh Pemuda Bugis, Effendi, yang berprofesi sebagai pengacara, menyebut Andreas sebagai sosok yang konsisten dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Salah satu ide brilian beliau adalah menginisiasi pembentukan MABT agar ada lembaga representatif ketika terjadi persoalan yang menyangkut masyarakat Tionghoa,” ujarnya.

Menurut Effendi, sebelum MABT berdiri, komunikasi lintas komunitas kerap menemui kendala karena belum ada wadah resmi yang mewakili dialog. Ia mengapresiasi langkah Ketua MABT saat ini yang dinilai bijak memberikan penghargaan kepada inisiator pendirian organisasi tersebut.

“Semoga MABT menjadi aset daerah yang bermanfaat bagi semua kalangan dan terus menjaga marwahnya sebagai wadah pemersatu,” tambahnya.

Penghargaan pada momentum Imlek Tahun Kuda Api itu dinilai bukan sekadar simbol apresiasi, melainkan pengingat pentingnya kolaborasi lintas etnis dalam menjaga harmoni masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat secara luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....