Stigma Kusta Penyakit ”Kutukan”, Pengobatan Nyata untuk Sembuh
- 28 Feb 2026 14:44 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Tangan, jari jemari hingga kaki begitu sempurna dari setiap insan manusia. Kaki yang tegap melangkah hingga tangan untuk menggenggam erat. Perlahan karunia itu bisa sirna. Tanpa disadari bercak merah maupun putih yang muncul di permukaan kulit ternyata ancaman sebuah penyakit. Penyakit itu adalah Kusta.
Menurut Kharisma Alifah, Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika di Pontianak, kusta adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Nama bakterinya Mycobacterium Leprae. Bakteri ini menyerang ke kulit hingga ke saraf.
Dari beberapa pasien yang ditangani Kharisma, tanda awal bisa terlihat dengan adanya bercak merah atau bercak putih pada kulit. Menurutnya di bercak itu pasien tidak akan bisa terasa jika disentuh, termasuk juga mulai tidak merasa gatal, tidak juga merasa nyeri.
Kharisma mengatakan terdapat lima tanda khas penyakit kusta yakni bercak merah, bercak putih, tidak gatal, tidak nyeri, selanjutnya bercak tersebut juga tidak sembuh dengan salep-salep atau obat lain.
“Khasnya itu bercak pada kulit udah dicoba dikasih salep, kasih obat, tapi enggak sembuh-sembuh. Nah itu bisa jadi lima tanda utama, tanda awal. Atau misalnya ada luka di kaki yang enggak tahu tiba-tiba ada luka nih, enggak terasa,” jelasnya, Sabtu 28 Februari 2026.
Kharisma menyatakan penyakit kusta menyerang ke saraf, sehingga jika terkena di area kaki maka pasien tidak merasakan telapak kakinya. Bahkan jika terkena benturan kayu, kena paku atau terkena apapun, pasien atau orang tersebut tidak lagi bisa merasakan apapun malah tanpa disadari sudah menjadi luka.
Menurut Kharisma, penularan penyakit kusta ini dengan kontak erat yang sudah lama bertahun-tahun. Penularan penyakit ini bisa melalui droplet atau air liur atau ludah dengan terpapar kontak erat bukan melalui berjabat tangan atau misalnya merangkul atau duduk bersebelahan dalam waktu singkat.
“Biasanya sih memang yang satu rumah atau memang bertangga dekat gitu. Jadi kontaknya cukup lama, baru akhirnya timbul gejala,” ujar Kharisma.
Ada stigma menyebut kusta itu penyakit kutukan. Kharisma menegaskan itu bukan lah kutukan namun paradigma yang muncul kemungkinan diakibatkan karena tampilan pasien penyakit kusta yang belum diobati bisa parah termasuk wajah yang bisa berubah. Tak hanya itu kulit dapat menjadi menebal, berlipat, serta terjadi kerusakan saraf yang bila terlambat ditangani, dapat menyebabkan kecacatan permanen hingga kehilangan jari tangan atau kaki.

Kharisma memastikan penyakit kusta dapat menjadi berat apabila tidak diobati, karena bakteri penyebabnya menyerang saraf. Kerusakan saraf ini menyebabkan mati rasa dan kelemahan otot. Dalam jangka waktu lama, kondisi tersebut dapat menimbulkan kekakuan sendi (kontraktur). Selain itu, karena berkurangnya rasa nyeri, penderita sering tidak menyadari adanya luka. Luka yang terjadi berulang dan tidak dirawat dapat mengalami infeksi berat yang pada akhirnya berisiko menyebabkan kecacatan permanen hingga kehilangan bagian jari tangan atau kaki. Kondisi ini tentu dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Dia juga memastikan pengobatan kusta sudah ada bahkan gratis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) karena menjadi bagian dari program pemerintah. Kharisma menambahkan bahwa Puskesmas telah menyediakan obat kusta dalam bentuk paket pengobatan lengkap sesuai dengan standar nasional.
Strategi pengobatan kusta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kasus ringan dengan jumlah lesi kulit sedikit dan kasus berat dengan jumlah lesi lebih banyak. Lesi adalah area kulit yang mengalami perubahan warna, tekstur, atau bentuk dibandingkan kulit sekitarnya, misalnya berupa bercak, benjolan, atau luka. Kharisma menegaskan bahwa kusta dapat disembuhkan, asalkan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Dokter akan mengklasifikasikan pasien ke dalam kelompok Pausibasiler (PB) atau Multibasiler (MB). Pengobatan untuk tipe PB berlangsung selama 6 bulan, sedangkan tipe MB selama 12 bulan, sesuai standar program nasional.
Dokter Kharisma menghimbau jika menemukan bercak kulit yang mati rasa atau perubahan pada saraf seperti kesemutan dan kelemahan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Menurutnya deteksi dan pengobatan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi dan menghapus stigma terhadap kusta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....