Ibu Bekerja Rentan Burnout, Ini Cara Mengatasinya

  • 17 Feb 2026 14:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Program Pengarusutamaan Gender dan Inklusi edisi 16 Februari 2026 mengangkat tema “Perempuan Produktif Tanpa Kehilangan Peran Keluarga” dengan menghadirkan Meliani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Ketua DPC IWAPI Singkawang. Dalam kesempatan tersebut, Meliani membahas tantangan perempuan bekerja yang tetap menjalankan peran sebagai ibu dan istri di dalam keluarga.

Meliani menjelaskan, “Perempuan produktif adalah perempuan-perempuan yang bekerja. Salah satunya itu yang bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.” Menurutnya, perempuan yang bekerja tidak hanya berkontribusi secara ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam membangun kemandirian dan ketahanan keluarga.

Namun demikian, perempuan dengan peran ganda kerap menghadapi tantangan fisik dan mental. Ibu yang bekerja umumnya bangun paling pagi dan tidur paling akhir. Selain tanggung jawab profesional di kantor, mereka juga tetap mengurus suami, rumah tangga, hingga kebutuhan anak. Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan fisik dan mental, bahkan lebih berat dirasakan pada aspek psikologis.

Situasi ini sering kali menimbulkan konflik batin dan rasa bersalah karena merasa belum memiliki cukup waktu untuk anak. Tidak sedikit ibu bekerja yang mengalami overthinking dalam pola pengasuhan. Meliani menilai bahwa budaya patriarki dan pola pikir masyarakat turut memberi tekanan. “Sebenarnya kalau mindsetnya mau diluruskan, itu bisa. Misalnya mungkin masyarakat kita melihat ibu yang baik itu harus selalu di rumah gitu kan, terus kalau anak bermasalah itu berarti ibunya yang sibuk, kemudian seorang ibu yang memiliki karier itu egois. Nah itu mindset yang menekan kita sebagai ibu-ibu yang bekerja. Coba kalau mindset kita itu diganti jadi ibu yang bekerja itu bisa menjadi role model kemandirian, terus anak belajar tanggung jawab dan disiplin," kata Meliani.

Untuk mengurangi rasa bersalah karena waktu bersama anak yang terbatas, Meliani menyarankan peningkatan kualitas interaksi. Ketika sudah berada di rumah, ibu diharapkan fokus membersamai anak tanpa disibukkan kembali oleh pekerjaan. Menurutnya, kualitas kebersamaan lebih penting daripada kuantitas waktu.

Meliani juga menegaskan bahwa kondisi burn out hampir pasti dirasakan oleh ibu bekerja. “Setiap ibu yang bekerja pasti merasakan burn out. Jadi, pertama, kita itu bukan robot yang bisa mengerjakan semuanya dalam satu waktu. Sebagai perempuan kita juga punya keterbatasan," ujar Meliani. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan prioritas agar tidak kewalahan.

“Jadi prioritaskan hal yang utama, apa yang perlu dilakukan setiap hari. Misalnya sarapan anak, kantor, terus pulang waktu untuk anak dan suami. Udah itu aja, 3 itu aja diprioritaskan, yang lain-lain belakangan. Hindari multi tasking yang berlebihan," ujar Meliani.

Selain itu, komunikasi dengan suami juga perlu dijaga dan tidak segan meminta bantuan pasangan dalam mengurus rumah tangga. Waktu istirahat pun harus benar-benar dimanfaatkan untuk memulihkan energi, bukan kembali digunakan untuk bekerja.

Di akhir perbincangan, Meliani mengingatkan agar perempuan tidak terjebak dalam tekanan berlebihan. “Jangan sampai kita diperbudak oleh pekerjaan, diperbudak oleh waktu, dan diperbudak oleh uang," ucap Meliani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....