Bahasa Isyarat Dukung Wisata Inklusif Pontianak
- 16 Feb 2026 21:01 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Sosialisasi eksplorasi budaya dan pariwisata ramah disabilitas melalui komunikasi bahasa isyarat digelar di Pontianak sebagai upaya mendorong terciptanya ruang wisata yang inklusif bagi penyandang disabilitas, Senin, 16 Februari 2026. Dalam sosialisasi ini menghadirkan akademisi, guru bahasa isyarat, duta-duta Kalimantan Barat dan juga para peserta mahasiswa berdiskusi hangat mengenai keadaan pariwisata dan budaya agar bisa sampai kepada teman-teman tuli.
Akademisi, sejarawan, dan budayawan Kalimantan Barat, Syarifuddin DaEng Usman, mengatakan kegiatan budaya dan pariwisata selama ini belum sepenuhnya menyentuh masyarakat disabilitas.
“Selama ini ada banyak kegiatan, tetapi belum menyentuh masyarakat penyandang disabilitas. Mereka sering bingung karena penerjemah bahasa isyarat masih sangat langka,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dan pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, untuk menyediakan unit layanan khusus bagi penyandang disabilitas agar dapat mengakses kegiatan budaya dan wisata secara setara.
Duta Bahasa Kalimantan Barat, Kania Salsabila, menilai bahasa memiliki peran strategis dalam membangun inklusivitas. Menurutnya, bahasa bukan hanya komunikasi verbal, tetapi juga mencakup bahasa isyarat yang menjadi jembatan bagi teman tuli.
“Bahasa isyarat harus kita kuasai untuk menjembatani teman-teman disabilitas yang tidak bisa berbahasa secara verbal,” katanya.
Hal senada disampaikan Duta Bahasa Kalimantan Barat lainnya, Sebastianus Hugo. Ia menjelaskan bahwa pengembangan literasi inklusif telah menjadi bagian dari program Duta Bahasa, termasuk penyediaan audiobook untuk tunanetra serta konten literasi berbasis bahasa isyarat.
Duta Bahasa Kalimantan Barat 2025 ini mengusulkan agar destinasi wisata di Pontianak menghadirkan media informasi visual, seperti videotron yang menampilkan sejarah tempat wisata dalam bahasa isyarat, sehingga lebih ramah bagi komunitas Tuli.
Dari sisi praktisi, Ketua Bahasa Isyarat sekaligus guru Pusbisindo Kalimantan Barat, Lidya Alvavu Taslim, menyoroti masih minimnya akses komunikasi di sejumlah destinasi wisata.
“Pariwisata di Pontianak masih kurang aksesnya. Tidak ada komunikasi yang menjembatani teman-teman Tuli. Maka masyarakat umum perlu belajar bahasa isyarat,” ujarnya kepada reporter RRI Pontianak melalui peraga bahasa isyarat.
Ia berharap kegiatan sosialisasi ini menjadi langkah awal untuk mendorong kebijakan yang lebih inklusif, sehingga penyandang disabilitas dapat menikmati kegiatan budaya dan pariwisata tanpa hambatan komunikasi.
Peserta sosialisasi, Rugayyah yang juga sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Islam IAIN Pontianak merasakan banyak hal positif dari sosialisasi ini dan terdorong untuk belajar lebih dalam bahasa isyarat.
"Seru banget tadi, saya dan teman-teman saya jadi makin tertarik untuk belajar lebih serius bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan teman-teman tuli kita." katamya
Melalui sosialisasi ini, para peserta juga diperkenalkan pada dasar-dasar bahasa isyarat sebagai bentuk edukasi awal dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pariwisata yang ramah disabilitas di Kota Pontianak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....