Kasus Molotov, Pemkab Kubu Raya Siapkan pendampingan
- 07 Feb 2026 22:27 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Kubu Raya - Tindakan ekstrem yang dilakukan seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya dengan melempar bom molotov menyoroti lemahnya ketahanan psikologis anak di tengah banjir informasi digital. Kejadian ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Kubu Raya, terlebih adanya dugaan bahwa pelaku terpengaruh konten kekerasan yang beredar di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Kubu Raya, Sujiwo menyatakan bahwa pemerintah daerah akan mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Pasalnya, pelaku masih berusia sekitar 15 tahun dan diketahui berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu.
“Ini anak di bawah umur. yang pertama harus kita selamatkan mentalnya,” kata Sujiwo saat mengunjungi SMPN 3 Sungai Raya, Jumat, 6 Januari 2026.
Ia mengaku prihatin karena berdasarkan penelusuran awal, pelajar itu dikenal berperilaku baik dan memiliki kemampuan akademik yang cukup bagus. Hal ini, mendorong pemerintah daerah untuk menggali lebih dalam persoalan yang melatarbelakangi aksi berbahaya tersebut.
Sujiwo memastikan, akan memimpin langsung proses pendampingan melalui dinas terkait, termasuk mengunjungi rumah orang tuanya. Dari informasi, orang tua pelaku sedang sakit dan kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas. Bahkan, pelaku disebut menjadi tulang punggung keluarga.
“Kita akan hadir langsung. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal empati,” ujar Sujiwo.
Untuk itu, Sujiwo mengajak, masyarakat kembali menghidupkan kepedulian sosial melalui peran Dasa Wisma dan PKK, agar kondisi warga sekitar bisa terpantau sejak dini.
“Kita harus tahu 10 rumah di sekitar kita. Ada lansia terlantar, ibu hamil tak terurus, atau anak bermasalah, segera laporkan. Jangan apatis,” ucap Sujiwo.
Selain itu, Sujiwo memastikan sekolah kembali normal mulai Senin. Ia menekankan, pentingnya peran guru dalam membaca karakter siswa serta menolak tegas segala bentuk perundungan.
“Bullying merusak psikologis anak. Saya minta tidak boleh ada bullying di sekolah mana pun,” tutur Sujiwo, menegaskan.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya, Sy. Muhammad Firdaus, menyatakan pihaknya fokus pada pemulihan kondisi mental siswa pascakejadian tersebut.
“Hari pertama sekolah kita hadirkan semua anak. Kita ingin deteksi trauma dan memastikan tidak ada lagi rasa takut,” kata Firdaus.
Ia menambahkan, momentum Ramadan akan dimanfaatkan untuk memperbanyak aktivitas keagamaan sebagai bagian dari healing siswa.
Lebih jauh, Firdaus mengungkapkan Disdikbud Kubu Raya tengah menyiapkan edaran sekaligus skema edukasi penggunaan media sosial yang sehat di lingkungan sekolah.
Langkah ini diambil menyusul dugaan kuat adanya penyimpangan pemanfaatan teknologi informasi yang memicu perilaku ekstrem. “Kami akan arahkan semua satuan pendidikan ikut mengawasi penggunaan gadget," ucap Firdaus.
Hal ini penting agar anak-anak tidak terjerumus ke konten negatif, termasuk kekerasan dan radikalisme.
Dalam edaran tersebut, Disdikbud juga akan menekankan pentingnya deteksi dini terhadap potensi kenakalan remaja dan paparan ideologi menyimpang di kalangan pelajar. Kasus molotov di SMPN 3 Sungai Raya menjadi cermin bagi semua pihak bahwa literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak, demi menyelamatkan generasi muda.
Baca juga : Pascabom Molotov SMPN 3, KPAD Beri Pendampingan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....