Bawaslu Kalbar: Kepemimpinan Politik Mahasiswa Harus Beretika

  • 07 Feb 2026 19:08 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kepemimpinan politik di kalangan mahasiswa tidak cukup dibangun dari semangat aktivisme semata, tetapi harus bertumpu pada etika, pemahaman regulasi, serta kesadaran demokrasi. Hal itu disampaikan perwakilan Bawaslu Kalimantan Barat, Yosef Harry Suyadi, dalam Pelatihan Kepemimpinan Politik Muda yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM Se-Kalimantan) di Aula Kampus Poltekkes Kemenkes Pontianak, Jumat, 6 Januari 2026.

Yosef menilai, tantangan demokrasi ke depan tidak hanya terletak pada prosedur pemilu, tetapi juga pada kualitas aktor politik yang terlibat di dalamnya. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisi strategis, baik sebagai calon pemimpin masa depan maupun sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap proses politik.

“Partisipasi politik anak muda harus disertai pemahaman etika dan aturan main demokrasi. Tanpa itu, partisipasi justru berpotensi melemahkan demokrasi,” kata Yosef di hadapan ratusan mahasiswa peserta pelatihan.

Ia menegaskan bahwa pengawasan pemilu bukan semata tugas lembaga penyelenggara, melainkan membutuhkan keterlibatan publik yang sadar hukum dan berorientasi pada kepentingan bersama. Mahasiswa, menurut dia, memiliki modal intelektual dan keberanian moral untuk menjalankan peran tersebut secara konstruktif.

Yosef juga mengingatkan tantangan politik di era digital yang semakin kompleks, mulai dari maraknya disinformasi hingga polarisasi opini di ruang publik. Karena itu, kepemimpinan politik muda dituntut untuk bersikap kritis, rasional, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan ruang digital sebagai sarana pendidikan politik, bukan sekadar arena mobilisasi emosi.

Pelatihan Kepemimpinan Politik Muda ini mengusung tema “Membangun Kepemimpinan Politik Muda yang Berintegritas, Partisipatif, dan Berorientasi Kepentingan Publik”. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari lintas sektor, termasuk unsur penyelenggara pemilu, pemerintah daerah, dan legislatif.

Selain Yosef Harry Suyadi, hadir pula perwakilan Kesbangpol Provinsi Kalimantan Barat, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat Dian Eka Muchairi, serta pimpinan Poltekkes Kemenkes Pontianak. Para narasumber membahas dinamika politik praktis, regulasi kepemiluan, serta peran generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi.

Ketua Panitia Ahmad Syaiyadi menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan literasi politik mahasiswa sekaligus mengikis sikap apatis terhadap proses demokrasi. Ia berharap forum ini mampu melahirkan kader-kader pemimpin muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga memahami etika dan tanggung jawab politik.

Sementara itu, Koordinator Pusat BEM Se-Kalimantan Danil Huda menegaskan pentingnya kolaborasi antarelemen mahasiswa dalam mengawal isu-isu publik. Menurutnya, mahasiswa perlu hadir sebagai kekuatan moral yang mampu menjaga demokrasi tetap berjalan di jalur kepentingan rakyat.

Diskusi yang dipandu moderator Lidya Paristi berlangsung interaktif. Para peserta aktif menggali isu kepemimpinan politik muda, pengawasan demokrasi, serta tantangan membangun kepercayaan publik di tengah dinamika politik digital.

Melalui pelatihan ini, BEM Se-Kalimantan berharap mahasiswa semakin siap mengambil peran sebagai aktor demokrasi yang beretika, kritis, dan berorientasi pada kepentingan publik, sejalan dengan tantangan politik masa depan. 


Baca juga : Danil Huda dari Kalbar Jadi Korpus BEM se-Kalimantan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....