Cerita Jani, Bayi Orang Utan Terpisah dari Induknya

  • 23 Jan 2026 13:46 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Ketapang - BKSDA Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, bersinergi dengan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), berhasil mengevakuasi seekor bayi orang utan betina di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Bayi orang utan yang ditemukan tanpa induk di perkebunan sawit milik warga tersebut kini telah diamankan untuk mendapatkan perawatan medis dan rehabilitasi lebih lanjut.

‎Bayi orang utan yang kemudian diberi nama Jani ini terlihat oleh warga desa selama beberapa hari di perkebunan sawit. Warga desa melaporkan bahwa individu tersebut terlihat sendirian tanpa keberadaan induknya di sekitar lokasi.‎

‎Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan segera melakukan verifikasi lapangan dan memastikan bahwa bayi orang utan tersebut memang berada dalam kondisi sendirian di tengah kebun sawit tanda ada makanan untuknya.

‎‎Bayi orang utan ini terpantau tidak banyak bergerak dan terlihat kebingungan menunggu induknya. Tim sempat juga berupaya mencari induknya tapi hasilnya nihil. Untuk menghindari potensi konflik dengan warga sekaligus menjaga keselamatan satwa, tim verifikasi memutuskan untuk berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.

‎Setelah tim penyelamat tiba dan melakukan observasi langsung terhadap kondisi individu, proses penyelamatan diputuskan untuk dilakukan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Keputusan ini diambil mengingat usia orang utan yang masih sangat muda, sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko. Penanganan dilakukan secara langsung oleh dokter hewan dan animal keeper berpengalaman.

‎‎Dokter Hewan YIARI, Komara mengungkapkan, secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda.

‎"Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko. Penanganan manual menjadi pilihan paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa," jelas Komara.

‎Proses penangkapan berjalan lancar. Jani kemudian dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orang Utan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Jani diperkirakan berusia sekitar 5 tahun. Pada usia tersebut, bayi orang utan seharusnya masih hidup bersama induknya.

‎‎"Di alam liar, anak orang utan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup. Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko dan dapat mengancam keselamatan individunya," jelas Komara.

‎Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan, sambil menunggu kondisi stresnya stabil.

‎‎Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan bahwa kasus ini kembali menunjukkan tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya.

‎‎"Kasus ini mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar, akibat landskap yang terfragmentasi," kata Silverius.

‎‎Pihaknya pun mengapresiasi kerja sama cepat antara masyarakat, mitra lapangan, BKSDA, dan tim YIARI.

‎‎"Ke depan, upaya pencegahan dan edukasi menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus berulang. Kami bersama BKSDA Kalimantan Barat akan terus memantau kondisi Jani serta melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan penyebab terpisahnya individu ini dari induknya. Kami juga menerjunkan tim untuk memantau kondisi di sekitar perkebunan guna mencari keberadaan induknya. Namun, jika induknya tidak dapat ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga usianya mencukupi dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat yang lebih layak," ujar Silverius.

‎‎Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasinya kepada semua pihak yang bekerjasama dalam penyelamatan anak orang utan ini.

‎‎"Kondisi Jani ini merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orang utan. Salah satu hal penting yang harus kita tingkatkan bersama adalah edukasi dan penyadartahuan kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati orang utan dan habitatnya serta satwa liar lainnya," ucapnya.

Baca juga: Cerita Tiga Orang Utan Kalimantan Kembali ke Hutan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....