Ekspedisi Rupiah Berdaulat Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan

  • 26 Agt 2025 17:04 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi Kalimantan Barat, Harry Ronald, mewakili Gubernur Kalbar Ria Norsan pada kegiatan Pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2025 kerja sama Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut, Selasa (26/8/2025), menyampaikan bahwa penguatan literasi dan inklusi keuangan menjadi kunci pembangunan ekonomi daerah.

Harry mengutip hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 Mei 2025 lalu. Survei tersebut menunjukkan peningkatan indeks literasi keuangan nasional menjadi 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

“Capaian ini menjadi indikator positif bahwa masyarakat semakin memahami dan mengakses layanan keuangan secara lebih luas. Merespons hal ini, kami mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus mengakselerasi pengembangan ekonomi melalui peningkatan literasi serta perluasan akses terhadap layanan jasa keuangan,” ungkap Harry.

Menurutnya, bentuk konkret dari upaya ini mencakup penyediaan akses terhadap berbagai produk keuangan, seperti kredit, tabungan, penjaminan, subsidi bunga, hingga investasi yang mudah, murah, dan aman. Hal ini juga sejalan dengan misi Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas Rupiah melalui kebijakan moneter yang efektif, termasuk suku bunga rendah dan prioritas akses keuangan bagi masyarakat di wilayah 3T serta kawasan perbatasan.

Harry menambahkan, keberhasilan program pemerintah sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat. Kegiatan Ekspedisi Rupiah Berdaulat yang digelar di sejumlah pulau terluar Kalimantan Barat bukan hanya memastikan ketersediaan uang layak edar, melainkan juga memberikan edukasi penting mengenai Rupiah dan literasi keuangan.

“Edukasi ini akan lebih berdampak jika disertai dengan perluasan akses layanan keuangan, termasuk penyampaian informasi mengenai produk pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Ultra Mikro (UMi), yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha kecil sebagai tulang punggung perekonomian daerah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....