229 Meriam Karbit Pontianak Akan Bergema Sambut Idul Fitri

  • 13 Mar 2026 14:13 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Tradisi meriam karbit kembali menjadi daya tarik masyarakat di pesisir Sungai Kapuas menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dentuman meriam yang menggema dari kedua sisi sungai menjadi simbol kegembiraan warga dalam menyambut kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Pontianak. Warga biasanya mulai mempersiapkan meriam setelah salat tarawih hingga menjelang sahur selama bulan Ramadan.

Ketua kelompok Meriam Karbit Asopwa Nurul Hidayah, Muhammad Andri, saat siaran Suara Budaya Nusantara (SBN), Jum'at, 13 Maret 2026, mengatakan pembuatan meriam dilakukan secara gotong royong oleh warga di pesisir sungai.

“Biasanya setelah salat tarawih kami berkumpul membuat meriam sambil menunggu waktu sahur. Ini sekaligus menjadi cara mempererat silaturahmi warga,” ujarnya.

Menurut Andri, meriam karbit tidak hanya menjadi tradisi Ramadan, tetapi juga pernah digunakan dalam berbagai peristiwa penting di masa lalu, termasuk sebagai simbol kegembiraan saat penobatan Sultan pertama Pontianak. “Tradisi ini sudah ada sejak lama dan terus kami jaga sebagai budaya masyarakat pesisir Sungai Kapuas,” katanya.

Ia menambahkan, tahun ini diperkirakan sekitar 229 meriam akan dinyalakan oleh berbagai kelompok masyarakat di Pontianak. “Dari data yang kami dengar jumlahnya bisa mencapai sekitar dua ratusan lebih meriam yang disiapkan oleh kelompok-kelompok warga,” jelas Andri.

Meski demikian, para pembuat meriam karbit kini menghadapi sejumlah tantangan, terutama kelangkaan kayu log yang biasa digunakan sebagai bahan utama meriam. Selain itu, harga karbit sebagai bahan peledak juga semakin mahal. “Pendanaan menjadi salah satu kendala kami, karena satu meriam bisa menghabiskan biaya sekitar empat sampai lima juta rupiah tergantung ukuran,” ungkapnya.

Namun demikian, semangat warga untuk melestarikan tradisi ini tetap tinggi. Andri menegaskan bahwa generasi muda masih menunjukkan minat untuk ikut serta membuat dan menyalakan meriam karbit. “Selama masih ada anak muda yang peduli dengan tradisi ini, kami akan terus menjaganya agar tetap hidup di Pontianak,” katanya.

Dentuman meriam karbit biasanya mencapai puncaknya pada malam takbiran. Ribuan warga bahkan memadati tepian Sungai Kapuas hingga jembatan untuk menyaksikan suara meriam yang saling bersahutan, menciptakan suasana khas Lebaran di Kota Pontianak.

Rekomendasi Berita