Disbunak Kalbar Pastikan Stok Ayam dan Telur Surplus jelang Lebaran

  • 11 Mar 2026 11:42 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kesiapan dan ketersediaan hewan ternak dan turunannya di Kalimantan Barat menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1447 masih surplus.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk komoditas daging sapi yang masih mengalami defisit. Keterbatasan produksi lokal membuat kebutuhan daging sapi di Kalimantan Barat masih harus dipenuhi dari luar daerah.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat, Ignatius IK, mengatakan secara umum ketersediaan komoditas peternakan seperti ayam ras pedaging dan telur ayam ras masih dalam kondisi aman jika dilihat dari prognosa neraca produksi tahunan.

Menurutnya, produksi daging ayam ras atau ayam pedaging di Kalimantan Barat masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun.

“Kalau dilihat dari prognosa tahunan neraca produksi, daging ayam ras atau pedaging masih bisa memenuhi kebutuhan. Bahkan masih ada kelebihan sekitar 12 ribu ton lebih untuk kebutuhan tahunan,” kata Ignatius.

Sementara itu untuk telur ayam ras, produksi di Kalimantan Barat diperkirakan mencapai sekitar 22 ribu 779 ton per tahun. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ignatius menjelaskan, angka tersebut juga sudah memperhitungkan tambahan kebutuhan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang turut mendorong peningkatan konsumsi produk peternakan.

Meski demikian, jika dilihat dalam jangka pendek khususnya selama bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri, biasanya terjadi lonjakan permintaan yang cukup tinggi.

“Kalau dalam jangka pendek, terutama saat puasa dan menjelang lebaran, memang sering terjadi sedikit defisit karena permintaan meningkat sangat drastis. Tapi saya yakin kebutuhan ini masih bisa kita penuhi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komoditas yang masih menjadi persoalan utama adalah sapi potong. Produksi sapi lokal di Kalimantan Barat saat ini baru mampu memenuhi sekitar 60 persen dari kebutuhan daerah.

“Khusus sapi potong memang menjadi persoalan karena produksi kita hanya mampu sekitar 60 persen. Sisanya sekitar 40 persen kita datangkan dari Jawa dan Madura, selain juga dalam bentuk daging beku,” jelasnya.

Menurut Ignatius, defisit daging sapi terjadi karena produksi lokal masih terbatas sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat setiap tahun, terutama saat momen hari besar keagamaan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti dalam memilih produk daging, khususnya daging beku yang beredar di pasaran.

“Hanya saja masyarakat perlu memperhatikan produk yang memiliki Nomor Kontrol Veteriner atau NKV. Produk yang memiliki NKV biasanya sudah melalui proses yang memenuhi standar higienis dan pengawasan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Wilayah Kalimantan Barat, Bambang, membenarkan bahwa ketersediaan ayam dan telur di Kalbar saat ini dalam kondisi surplus.

“Persediaan ayam dan turunannya memang surplus. Peternak sudah menyiapkan produksi untuk mengantisipasi peningkatan permintaan daging ayam dan telur menjelang puasa dan lebaran,” ujar Bambang.

Rekomendasi Berita