Prof Wajidi Sayadi Soroti Tantangan Dakwah Era Post-Truth

  • 07 Mar 2026 22:22 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat menggelar acara silaturahmi dan buka puasa bersama pada hari ke-17 Ramadan, di Aula Kanwil Kemenag Kalbar, Sabtu, 7 Maret 2026. Menjelang buka puasa, diisi dengan tausiyah Ramadan oleh Wakil Ketua Umum MUI Kalbar sekaligus Guru Besar Ilmu Hadis IAIN Pontianak, Prof Wajidi Sayadi.

Wajidi menekankan pentingnya peran ulama dan tokoh agama sebagai pewaris Nabi Muhammad SAW untuk terus menjelaskan pesan-pesan Al-Qur'an kepada masyarakat. Ia merujuk pada Surah An-Nahl ayat 44 yang menegaskan posisi Rasulullah sebagai mubayin atau penafsir Al-Qur'an. Menurutnya, cara yang paling praktis untuk memahami kandungan Al-Qur'an saat ini adalah dengan mempelajari Sirah Nabawiyah atau sejarah perjalanan hidup Rasulullah.

Lebih lanjut, Prof. Wajidi menyoroti pergeseran otoritas keagamaan yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya bagi Generasi Z dan Generasi Alpha. Ia mengingatkan bahwa saat ini otoritas keagamaan tradisional yang biasanya dipegang oleh kiai dan pesantren mulai pudar dan diambil alih oleh media.

"Sekarang ini kita sudah di era post-truth. Itu bahaya sekali karena di era post-truth bukan fakta dan bukti yang menentukan, tapi pluralitas, emosi, dan opini publik yang kemudian menjadi kenyataan di media," tegasnya.

Informasi agama yang sifatnya instan dan terpotong-potong sering kali memicu kebingungan di kalangan umat tanpa adanya referensi yang kuat. Untuk menghadapi tantangan zaman yang jauh berbeda ini, Prof. Wajidi mengajak para ulama dan dai untuk terus memperbarui strategi, metode, dan pendekatan dakwah.

Memanfaatkan platform digital seperti podcast, TikTok, dan Instagram dinilai mutlak diperlukan agar pesan dakwah bisa menyentuh kesadaran masyarakat. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa penyelesaian masalah umat yang kompleks ini tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan harus melalui kekuatan kebersamaan dan lembaga, seperti halnya MUI.

Selain adaptasi media sosial, pesan kuat lain yang disampaikan adalah pentingnya literasi dan tradisi menulis (Nun wal Qalam) di kalangan tokoh agama, yang harus berjalan beriringan dengan kemampuan membaca (Iqra). Prof. Wajidi mendorong para ustaz dan kiai untuk mulai mendokumentasikan ilmu mereka agar bisa diwariskan menjadi sebuah peradaban.

Ia mengingatkan betapa besarnya jasa tulisan dari para ulama terdahulu seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, hingga Imam Syafi'i. "Tulis apa yang bisa kita tulis tanpa membandingkan kemampuan dengan orang lain. Kalau hanya bisa menulis dua atau tiga paragraf, tulis saja," pesannya memotivasi.

Jika seorang kiai atau penceramah memiliki keterbatasan dalam menulis, Prof. Wajidi menyarankan agar para santri atau jamaah mengambil inisiatif untuk merekam dan menyalin ceramah tersebut menjadi karya tulis, sehingga warisan keilmuan tetap terjaga meskipun sang ulama telah tiada.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Umum MUI Kalbar, Muhammad Basri Har, Kakanwil Kemenag Provinsi Kalbar, Muhajirin Yanis, serta jajaran dewan pembina dan segenap pengurus MUI Kalbar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....