Belajar Ikhlas di Bulan Suci

  • 28 Feb 2026 23:02 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ikhlas merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang menjadi landasan utama diterimanya suatu ibadah. Secara bahasa, ikhlas berasal dari bahasa Arab Khalasha yang berarti murni atau bersih. Kata tersebut kemudian berkembang menjadi Akhlasha yang bermakna memurnikan.

Ustadz Firdaus Pratama M.Ag., menyampaikan dalam ceramahnya pada program Ramadhan Vaganza, RRI Pontianak, ikhlas berarti memurnikan niat semata-mata karena Allah SWT, bukan karena kepentingan atau tujuan lainnya.

"Namun, menjalankan sikap ikhlas bukanlah perkara mudah. Diperlukan proses dan tahapan yang harus dilalui oleh setiap Muslim," tutur Ustadz Firdaus, Sabtu, 28 Februari 2026.

Ustadz mengatakan, Ulama besar asal Banten, Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitabnya Nashaihul ‘Ibad (Nazhohil ‘Ibad), menjelaskan bahwa ikhlas memiliki tiga tingkatan.

Untuk tingkatan pertama, merupakan level tertinggi dari ikhlas. Pada tahap ini, seseorang melaksanakan ibadah seperti salat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, dan amalan lainnya semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.

"Tidak ada tendensi lain selain karena Allah. Inilah bentuk kemurnian niat yang sesungguhnya," ujar Ustadz Firdaus.

Tingkatan kedua adalah beribadah dengan harapan memperoleh pahala dan balasan di akhirat. Misalnya, seseorang berpuasa karena ingin mendapatkan pahala dan masuk surga, atau karena takut akan siksa neraka. Meski masih ada unsur harapan dan ketakutan, tingkatan ini tetap termasuk dalam kategori ikhlas karena orientasinya tetap kepada Allah dan kehidupan akhirat.

Adapun tingkatan ketiga adalah beribadah dengan tujuan agar doa-doanya dikabulkan dalam urusan duniawi, seperti memohon kesehatan, kelapangan rezeki, atau kemudahan hidup. Tingkatan ini pun masih termasuk dalam kategori ikhlas, karena permohonannya tetap ditujukan kepada Allah SWT.

"di luar tiga tingkatan tersebut, maka tidak lagi disebut sebagai ikhlas. Misalnya, seseorang beribadah agar dipuji atau dipandang baik oleh manusia," ucap Ustadz Firdaus.

Ustadz Firdaus menambahkan, dalam konteks bulan suci Ramadan, Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan ibadah puasa. Ia berujar, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

"Artinya, ibadah dengan ikhlas menjadi tolok ukur, menjadi barometer diterima atau tidaknya suatu ibadah di sisi Allah SWT," kata Ustadz Firdaus.

Dengan demikian, setiap Muslim hendaknya senantiasa memperbaiki niat dalam beribadah, terutama di bulan Ramadan, agar setiap amalan yang dilakukan benar-benar bernilai di hadapan Allah SWT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....