Strategi Jitu Tingkatkan Iman dan Kendalikan Insecure
- 23 Feb 2026 20:37 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Fenomena perasaan tidak percaya diri atau yang akrab disebut insecure kini menjadi tantangan nyata, terutama bagi generasi muda (Gen Z). Menanggapi hal tersebut, program Ramadhan Vaganza RRI Pontianak menghadirkan Ustazah Atalia untuk mengupas tuntas bagaimana menjaga grafik keimanan tetap naik sementara rasa insecure harus ditekan serendah mungkin selama bulan Ramadan.
Ustazah Atalia menekankan bahwa figur terbaik dalam membangun kepercayaan diri adalah Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan, bahwa Rasulullah adalah sosok yang sangat berdamai dengan diri sendiri, meskipun tumbuh sebagai seorang anak yatim.
"Baginda Rasulullah adalah contoh luar biasa. Beliau seorang anak yatim, namun beliau justru mengangkat derajat anak yatim lainnya. Ini bukti beliau sudah berdamai dengan keadaan dirinya sendiri," ujar Ustazah Atalia saat menjawab pertanyaan host Budiman pada dialog program Ramadhan Vaganza edisi-5 dengan tema "Imam harus naik, Insecure harus Turun" disiarkan langsung melalui YouTube Pro2 dan radio Pro1, Pro2 serta Pro4 RRI Pontianak, Senin, 23 Februari 2026 sore.
Ustadzah Atalia membandingkan dengan kondisi saat ini, di mana banyak orang merasa terbatas atau rendah diri karena latar belakang keluarga atau status sosial. Rasulullah justru membuktikan bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dan percaya diri.
Menjawab pertanyaan mengenai fluktuasi iman, Ustazah Atalia menjelaskan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada dua hal utama yakni niat dan amalan. Menurutnya, niat menjadi fondasi awal. Jika niatnya tulus ingin menjadi orang baik karena Allah (lillahi ta'ala), maka Allah akan menuntun jalannya.
Kemudian, ikhtiar nyata. Menurut Ustazah Atalia, niat saja tidak cukup. Iman harus diiringi dengan perbuatan baik yang konsisten.
"Iman itu naik dan turun tergantung amalan kita. Jika amalan baik kita terjaga, maka iman akan ikut naik," tambahnya.
Ustazah Atalia memperingatkan bahwa rasa tidak percaya diri yang berlebihan bisa merusak akidah dan keimanan. Hal ini biasanya dipicu oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison). Atalia menjelaskan dampak buruk insecure. Pertama, iri pada fisik misalnya, ingin cantik seperti orang lain hingga melakukan tindakan medis yang merusak tubuh dan melanggar aturan agama. Kedua, iri pada materi misalnya, mempertanyakan takdir Allah terkait kekayaan, yang berujung pada hilangnya rasa syukur. Ketiga, minder pada kesalehan misalnya merasa terlalu berdosa hingga malu untuk berkumpul dengan orang saleh atau pergi ke masjid, padahal seharusnya hal itu menjadi motivasi untuk berproses.
Untuk mengatasi rasa insecure, terutama di tengah gempuran media sosial, Ustazah Atalia membagikan tiga langkah praktis. Pertama, luruskan niat. Atalia mendorong agar menjadikan kesuksesan atau kesalehan orang lain sebagai motivasi positif untuk memperbaiki diri, bukan sebagai beban. Kedua, batasi 'scrolling'. Ia menekankan, agar dapat mengurangi durasi melihat media sosial yang memicu perbandingan diri yang tidak sehat. Jaga kualitas diri dengan fokus pada progres pribadi.
Ketiga, perbanyak syukur. Dalam hal ini, menurut Ustazah Atalia, menyadari bahwa setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Syukur adalah obat paling mujarab untuk merasa cukup.
Pada momentum Ramadan ini, Ustazah Atalia juga mengingatkan bahwa tujuan puasa Ramadan sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Baqarah: 183 adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa bersifat personal yaitu Allah memerintahkan "kamu" untuk bertakwa, bukan memerintahkan kita untuk menjadi "seperti si A atau si B".
"Insecure adalah tanda bahwa kita selalu merasa kurang sebagai makhluk. Obatnya hanya satu yaitu banyak bersyukur. Apapun ujiannya, baik itu sehat atau sakit, syukuri karena ada hikmah di dalamnya. Jika iman naik, maka insecure akan turun dengan sendirinya," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....