Prof Masykuri Bakri Ingatkan Jamaah Pentingnya Manajemen Qalbu

  • 23 Feb 2026 18:56 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Guru Besar Pascasarjana Universitas Islam Malang, Prof Masykuri Bakri, membedah tuntas tentang "Bersihnya Hati sebagai Modal Meningkatkan Produktifitas Hidup Dunia dan Akhirat" pada Kuliah Ba'da Shubuh di Masjid Raya Mujahidin Pontianak pada Senin, 23 Februari 2026.

Dalam kajian berdurasi sekitar 34 menit tersebut, Prof. Masykuri kepada ribuan jemaah yang hadir menekankan, bahwa manusia diciptakan Allah dengan bekal akal, nafsu, dan naluri, yang membedakannya dengan malaikat. Ia mengingatkan bahwa tanpa landasan agama dan iman yang kuat, orientasi hidup manusia akan terjebak murni pada materi, yang pada akhirnya memicu sifat angkuh, permusuhan, dan takabur.

"Iman ini sesungguhnya separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah sabar," ungkap mantan Rektor UNISMA tersebut di hadapan para jamaah.

Prof Masykuri Bakri memberikan analogi yang menyentuh terkait rasa syukur. Menurutnya, Allah memberikan nikmat hidup berupa oksigen gratis yang kita hirup sekitar 60.000 liter dalam sehari semalam. Namun, kemewahan nikmat yang jika diuangkan bisa bernilai triliunan rupiah ini sering kali luput dari rasa syukur umat manusia.

Lebih lanjut, Prof. Masykuri menyinggung konsep kemerdekaan sejati. Menurutnya, kemerdekaan bukan sekadar bebas secara fisik, melainkan terbebasnya hati dari belenggu penyakit batin. Hati yang kotor oleh sifat dengki, hasut, takabur, dan su'udzon (berburuk sangka) akan berkarat, persis seperti besi yang dibiarkan terkena air. Karat di dalam hati inilah yang pada akhirnya menghambat produktivitas seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Untuk menjaga kejernihan hati agar tetap produktif, Prof. Masykuri membagikan tiga instrumen penting yang harus diamalkan umat Islam yakni menjaga Ibadah Mahdhah artinya kualitas keimanan harus terus dipupuk dengan menjaga salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya secara disiplin. Mengingat Kematian (Dzikrul Maut) berarti mengingat kematian bukan berarti bersikap pasif menunggu ajal, melainkan harus dimaknai sebagai pendorong untuk bekerja keras dan hidup produktif semata-mata mencari rida Allah. Membaca dan Membumikan Al-Qur'an yang berarti menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman harian, tidak hanya dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan sebagai solusi atas berbagai dinamika kehidupan dan penawar bagi hati yang gelap.

Menutup tausiyahnya, Prof. Masykuri mengingatkan bahwa di era industrialisasi dan digitalisasi saat ini, generasi muda sangat rentan kehilangan arah jika hatinya kosong dari nilai-nilai spiritual. Acara Kuliah Ba'da Shubuh yang berlangsung khidmat ini kemudian ditutup dengan doa bersama dan penyerahan cendera mata oleh Joni Hasan selaku perwakilan Takmir Masjid Raya Mujahidin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....