Prestasi Clara Garcia Cantika Atlet Para Renang Disabilitas
- 16 Nov 2025 09:58 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Untuk melahirkan bibit-bibit unggul berprestasi di cabang para renang, atlet disabilitas membutuhkan waktu serta upaya yang sangat besar. Pembinaan sejak usia dini menjadi kunci penting dalam mencetak atlet muda berbakat.
Hal ini dibuktikan oleh Clara Garcia Chantika, atlet para renang NPCI Kalimantan Barat yang berhasil mengharumkan nama daerahnya. Pada ajang Peparnas 2023 di Palembang, ia meraih 2 medali emas dan 1 perunggu.
Prestasi gemilang kembali ditorehkan Clara pada Peparnas 2025 di Jakarta, dengan raihan 2 emas dan 1 perak. Sementara itu, di PON 2024 di Solo, Clara sukses membawa pulang 2 medali emas.
Saat ini, Clara yang duduk di bangku kelas XII SMA masih terus berlatih demi bisa tampil di ajang olahraga tingkat nasional. Kebanggaan yang ia persembahkan untuk Kalimantan Barat lahir dari kerja keras dan latihan sungguh-sungguh sejak usia dini.
“Saya mulai berlatih renang sejak usia 6 tahun. Sejak SD sudah suka dengan air. Sepulang sekolah, saya berlatih lima hari dalam seminggu,” kata Clara dalam dialog Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Pontianak, Sabtu (15/11/2025).
Pelatih Para Renang National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalimantan Barat, Baroto Barsila, menegaskan pentingnya pembinaan sejak dini. “Di usia pertumbuhan, massa otot belum terbentuk sehingga lebih mudah mengajarkan teknik renang. Jika anak sudah mengenal cabang olahraga lain, tentu lebih sulit membentuknya. Ini menjadi tantangan besar,” ujarnya.
Menurut Baroto, menjadi atlet harus dimulai dari minat pribadi. “Pertama, harus suka dulu dengan air. Setelah dikenalkan, baru masuk ke tahap awal pembelajaran renang, menyelam, meluncur, lalu ke tahap berikutnya,” katanya.
Ia menambahkan, persiapan menghadapi pertandingan membutuhkan jadwal latihan yang terstruktur. “Program latihan terdiri dari persiapan umum, persiapan khusus, dan sleeper,” katanya.
Target pencapaian pun harus disesuaikan dengan tingkat kompetisi. “Kami lihat dulu event-nya. Apakah hanya event lewat atau event nasional yang menuntut kami harus juara,” katanya, menambahkan.
Untuk menghadapi ajang nasional, persiapan dilakukan lebih matang, termasuk latihan harian dan tambahan. “Saat Peparnas di Palembang, kami tidak tahu siapa lawannya. Persiapan khusus dilakukan sekitar satu bulan, dengan latihan harian setiap hari dan tambahan latihan pagi,” ujar Baroto.
Menghadapi PON, intensitas latihan ditingkatkan karena ajang ini mempertemukan atlet disabilitas dengan kategori gangguan yang sama tanpa melihat usia. “Di PON NPC Solo, latihannya lebih keras karena sifatnya open. Jika tingkat gangguan kaki di A10, maka lawannya juga A10, tetapi bisa berusia 20, 30 tahun, bahkan mantan juara PON sebelumnya,” ucapnya.
Melihat semangat dan perjuangan Clara, peluang besar terbuka untuknya mengikuti ajang olahraga bergengsi lainnya. Clara berharap selalu diberi kesehatan, baik untuk dirinya maupun keluarganya, serta dapat mewujudkan cita-citanya tampil di tingkat Asia. Ia juga mengamini mimpinya untuk bisa berlaga di ajang Olimpiade.
Baca juga: Disabilitas Muda Siap Ukir Prestasi Lewat NPCI Kalbar
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....