Antara Buku Pelajaran dan Linimasa: Cara Gen Z Memaknai G30S/PKI

  • 28 Sep 2026 17:17 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Menjelang peringatan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 2026, di tengah derasnya konten sejarah di media sosial, generasi muda diingatkan agar tidak menelan informasi secara mentah-mentah. Itu disampaikan seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah dan seorang pengurus lembaga bantuan hukum (LBH) di Pontianak, Kalimantan Barat yang sama-sama berasal dari Gen Z.

Mahasiswa semester 3 Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tanjungpura, Syahfiqih Noor, mengatakan cara paling aman menyikapi konten sejarah yang viral adalah memeriksanya ke sumber lain. Menurutnya, banyak konten di media sosial hanya menampilkan potongan cerita.

"Kita harus tahu bahwa beberapa konten di media sosial terkait sejarah ini belum tentu 100 persen benar. Bahkan ada yang setengah-setengah yang disampaikan," ujarnya.

Syahfiqih, yang akrab disapa Fiqih, mengaku pertama kali mengenal peristiwa G30S dari pelajaran PPKn di bangku Sekolah Dasar, serta dari tayangan televisi. Kedua sumber itu, katanya, memuat alur cerita yang sama, yakni menyebut Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang.

Sejak SMP ia mulai mendalami peristiwa tersebut dan mendapati bahwa hingga kini ada beberapa teori tentang siapa di balik G30S. "Ada empat teori sebenarnya hingga hari ini," katanya.

Keempatnya menyebut PKI, CIA, Presiden pertama Soekarno, dan Presiden kedua Soeharto sebagai dalang. Untuk menguji teori-teori itu, Fiqih menerapkan kritik sumber, metode dalam ilmu sejarah yang membandingkan beberapa sumber valid.

Ia membaca buku dan jurnal ilmiah, mencari informasi di Wikipedia, menonton video penjelasan di YouTube, dan bertanya kepada gurunya. Dari proses itu, ia menyatakan pandangan pribadinya masih condong pada teori awal yang ia pelajari, yakni PKI sebagai dalang, karena dinilai sesuai dengan kondisi politik pada masa itu.

"Lebih baik kita tidak menelannya mentah-mentah, tapi mencari dari sumber lain lagi," katanya.

Doni Wibowo, alumnus Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura diwawancarai RRI Pontianak, Senin 28 september 2026. (Foto: Ryan Ivander Aldino/MagangHub II 2026).

Sementara itu, Doni Wibowo, alumnus Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura yang wisuda Juli lalu dan kini menjadi pengurus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jiwa Sejati Keadilan Kalimantan Barat, menilai peristiwa 1965 tidak boleh dipandang sekadar sejarah masa lalu.

"Saya memandang ini bukan hanya sebagai peristiwa sejarah masa lalu, tapi juga sebagai pelajaran bagi kita untuk sekarang," ujarnya.

Menurut Doni, salah satu aspek yang kerap terlewat dalam perbincangan Gen Z adalah diskriminasi terhadap keluarga yang dikaitkan dengan pelaku gerakan tersebut. Ia mengaku pernah mendengar cerita dari seorang kerabat yang tinggal di daerah terdampak, bahwa pada masa itu rumah-rumah ditempeli tulisan yang menyebut penghuninya "antek PKI", dan keluarga mereka ditolak saat hendak mendaftar sebagai aparatur sipil negara.

Dari sisi hukum, ia menyebut gerakan semacam itu melanggar ketentuan hukum. Ia menambahkan bahwa KUHP mengatur pidana bagi penyebaran ajaran komunisme, marxisme, dan leninisme, yang menurutnya menunjukkan keseriusan negara terhadap ideologi tersebut.

Untuk ruang literasi, Doni mengusulkan kegiatan yang dekat dengan kebiasaan anak muda. Pontianak dikenal dengan budaya kafe, sehingga diskusi buku dan nonton bareng (nobar) bisa digelar. "Kalau di Pontianak ini kan terkenal karena coffee shop-nya. Hari ini kita bisa memadukan minat Gen Z terhadap coffee shop dengan edukasi terhadap peristiwa G30S," katanya.

Ia mencontohkan, nobar bola di bulan September bisa diganti dengan menonton video tentang G30S yang tersedia di YouTube, disusul diskusi tentang ideologi, situasi politik saat itu, hak-hak korban dan keluarga pahlawan revolusi, hingga diskriminasi terhadap keluarga pelaku. Selain tatap muka, ruang digital seperti YouTube, Zoom, webinar, dan kuliah umum juga bisa dimanfaatkan.

Doni berharap peristiwa serupa tidak terulang. "Cukup jadikan peristiwa 1965 itu yang terakhir," katanya, menegaskan seraya berharap ideologi yang menyimpang dari ideologi negara segera ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Kepada Gen Z, ia mengutip pesan Soekarno agar jangan sekali-sekali melupakan sejarah. "Jangan bersikap apatis terhadap sejarah, jangan pernah menganggap enteng sejarah. Itu yang paling penting, karena sejarah bukan hanya sekadar dikenang, tetapi juga menjadi pembelajaran untuk kita ke depannya," katanya, mengakhiri penjelasannya.

Rico Ferdinand, MagangHub II 2026

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....